PENATUA

Yohanes Ang

Konon ada seorang peserta katekisasi sedang diuji secara lisan akan pengetahuannya mengenai jabatan dalam gereja, ketika ditanya tentang apa yang menjadi tugas dari Penatua, si katekisan ini menjawab dengan penuh kepolosan:

bahwa  “tugas penatua adalah duduk di bangku paling depan dalam setiap kebaktian”.

Cerita diatas hanyalah sebuah kisah karikatural, namun (suka atau tidak) ada juga kebenaran di dalamnya, yaitu kuatnya anggapan yang mengira bahwa fungsi dan tugas Penatua itu cukup hanya sekedar duduk dibangku depan dalam setiap kebaktian.

Barangkali ada hal makruf yang dapat kita ambil hikmahnya dari kisah kelakar satiris tadi bagi kemaslahatan tugas pelayanan Penatua. Paling tidak, gurauan itu sudah “mengingatkan” bahwa fungsi dan tugas dari Pejabat Gerejawi itu tidaklah ringan,( meski jangan juga dianggap terlalu berat serta melelahkan yang membuat PENAT dan TUA), bukan perkara remeh,  urusan sepele, karena seorang Penatua diharapkan sekaligus “diwajibkan” agar dapat memelihara, merawat, menggembalakan, memberi makan, membalut luka, memimpin serta menjaga kemurnian akidah ajaran gereja.  Last but not least, Penatua diharapkan dapat mewujudkan tata tentrem gereja raharja

DIHADAPAN  TUHAN DAN JEMAATNYA

Pada akhir bulan Maret biasanya ada peristiwa penting dijemaat-jemaat dalam lingkungan GKI (W) Jabar, yaitu peristiwa peneguhan Penatua. Akta peneguhan itu berlangsung dalam kebaktian minggu yang suasananya agak berbeda (specially), terasa lebih khidmat, lebih takzim, karena ada pernyataan sikap iman dari para calon Penatua  dalam wujud pengakuan “dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya”, bahwa menjadi Penatua itu adalah karena Tuhan sendiri yang memanggil mereka, lalu adapula penumpangan tangan oleh Pendeta yang secara simbolis menyatakan berkat serta penyertaan Tuhan bagi Penatua dalam mengemban tugas panggilannya.

Melihat tatacara peneguhan dengan segala kekhusyukannya serta muatan makna yang dalam tadi, maka tidaklah salah jika dikatakan bahwa Penatua itu adalah jabatan gerejawi yang penting sekaligus pula menuntut tanggungjawab yang besar, seperti yang dapat kita baca dalam Kisah Para Rasul 20:28; I.Timotius 3:1-7; Titus 1:7-9 yang penjabarannya dalam ketentuan-ketentuan organisatoris gerejawi dapat kita temukan dalam Tager, Tatib dan Talak GKI.

DARI AJARAN SAMPAI POPULARITAS

Mengingat tugas dan peran Penatua yang demikian penting maka dalam proses pemilihan calon Penatua ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

Kualifikasi dari presbuteros (Penatua) termaktub dalam Titus 1:5-9 :Tidak bercacat,  tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah.

Yang mempunyai satu istri, yang anak-anaknya hidup beriman, yang suka memberi tumpangan,  suka akan yang baik, dapat menguasai diri,  bijaksana, adil dan saleh, yang berpegang pada perkataan yang benar, sesuai ajaran sehat, supaya ia sanggup menasehati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.

Tekanan diletakkan atas sifat moral dan etika, berbarengan dengan ketaatan pada berita Injil dan kesanggupan mengajarkannya dengan baik.

Segi-segi kesiapan iman (kesadaran akan tugas panggilan Tuhan), kesiapan teologis dan ajaran (kualitas spiritual, sikap iman yang sesuai dengan dasar, azas dan tujuan GKI), kesiapan pengenalan medan pelayanan (mempunyai orientasi pengetahuan tentang jemaat), kesiapan mental (memahami arti pelayanan dengan segala konsekwensi pengorbanannya). Bahkan popularitas calonpun ikut menjadi segi kesiapan yang dipertimbangkan (cukup dikenal oleh anggota jemaat).

Kemudian setelah proses pemilihan calon rampung, sebelum Penatua memasuki tugas pelayanannya masih dibekali dengan pembinaan yang disebut “Bina Penatua” yang dimaksudkan agar Penatua dapat mengemban tugasnya dengan baik dan supaya pelayanannya nanti dapat menjadi berkat.

Topik atau materi dalam Bina Penatua ini biasanya hanya menyangkut hal-hal praktis mengenai pengenalan tentang tugas panggilan gereja dan sasaran pelayanan, cara kerja yang baik didalam melayani serta seluk beluk yang terkait dengan organisasi.

Dengan melihat materi serta topik pembinaan yang ada, rasanya masih ada sesuatu yang kurang, karena pembinaan, idealnya bukan melulu hanya perihal organisatoris dan operasional saja, namun perlu juga membekali Penatua dengan “Bina Pengetahuan Alkitab dan Teologi” yang diberikan secara praktis, sistematis, kritis apologetis aktual dan populer.

Dari hasil diskusi mengenai hal-hal disekitar kompetensi Penatua dalam konven Penatua se-Klasis Cirebon di Linggarjati-Kuningan 7-8 November 1997, juga disebutkan bahwa selain mempunyai “Ketrampilan Standar” pengetahuan berorganisasi (memahami tugas-tugas liturgi, penggembalaan, hubungan dengan masyarakat, komunikasi yang baik dengan jemaat), Penatua juga sangatlah diharapkan punya “Ketrampilan Lebih” dalam hal pengetahuan Alkitab dan teologi (kemampuan membawakan renungan, khotbah, konseling, pembinaan aktivis jemaat dan seterusnya). Kesadaran akan pentingnya melengkapi dan memberi bekal pengetahuan Alkitab dan teologi bagi Penatua perlu mendapat perhatian serius, demi gereja, demi mutu pelayanan dan demi peningkatan kualitas SDM GKI Jabar yang dalam “bahasa Visi 2003” dikatakan : “perlu diasah terus-menerus untuk mencapai tingkat excellent menuju kesempurnaan sebagai alat penyalur berkat Tuhan yang efektif bagi seluruh pemercaya GKI Jabar “.

HUJAN ANGIN, BATUK PILEK, VIRUS DAN IMUNISASI

Pembinaan yang utuh serta sinambung memang perlu agar Penatua mampu berapologia memberi pertanggungjawaban iman yang diyakininya, mampu membentengi akidah terhadap tantangan baik yang datang dari luar maupun yang muncul dari dalam.

Sebagai gereja arus utama (mainline Churches) sebenarnya tidak sedikit tantangan yang dihadapi GKI Jabar, barangkali tidak salah jika diibaratkan seperti orang sedang berjalan ditengah cuaca yang kurang bagus, hujan dan banyak angin, sementara tubuh sedang menderita batuk pilek.

Yang dimaksudkan tantangan dari luar adalah tantangan yang datang dari berbagai buku (dari karya Achmad Deedat sampai Injil Barnabas)  serta sejumlah literatur yang merupakan serangan terhadap iman Kristiani.

Sedang yang dimaksudkan dengan tantangan yang muncul dari dalam adalah baik yang datang dari kubu FUNDAMENTALIS dengan pandangan infallibility, innerancy, bibliolatry dan seterusnya, maupun yang datang dari kubu LIBERAL  dengan pandangan demitologisasi, kritik historis, kritik sumber dan seterusnya.

Virus akidah memang banyak tersebar disekitar kita , namun virus itu baru bisa jadi penyakit kalau saja tubuh kita lemah, nah supaya tetap sehat walafiat ditengah gempuran tadi, tentu saja diperlukan imunisasi yang berupa pembinaan seperti yang disebutkan diatas.

Agaknya memang tidak tertutup kemungkinan bahwa ada juga Penatua yang mempunyai pengetahuan cukup lumayan mengenai masalah-masalah iman, Alkitab, teologi, kemasyarakatan dan kegerejaan sekalipun tidak belajar teologi secara formal, tapi hanya secara otodidak. Namun cara ini sangatlah terbatas, bahkan nyaris langka, karena dibutuhkan minat yang serius, disiplin yang tinggi, mau belajar dan tidak merasa pintar, kemudian diperlukan pula tersedianya buku-buku atau kompilasi bacaan lainnya yang cukup komprehensif.

Barangkali tidak banyak Penatua yang diberi :”Karunia Talenta Spesial” seperti itu, kecuali bila mau dengan tekun melakukan “tapa brata” seperti tokoh Ekalaya dalam wiracarita Hindu Maha Bharata yang walaupun tidak pernah belajar secara formal dari sang mahaguru Begawan Durna (satu-satunya guru di kerajaan Hastina,  Kurawa dan Pandawa adalah murid-muridnya), tetapi dapat menguasai ilmu kesakten yang cukup mumpuni bahkan jauh diatas ilmu yang dimiliki  oleh para murid Durna. Dan soal ini pula yang membuat Durna tidak sejahtera, (karena melihat kesakten orang pinggiran  yang bukan muridnya), kemudian mencari akal untuk mengeliminasi Ekalaya dengan memotong ibujarinya.

Didalam pelayanan gereja kita seharusnya bersyukur jika ada sosok seperti Ekalaya, bukan malah bersikap seperti “pakem” wayang dalam kisah yang disebutkan diatas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s