KHILAFIAH BAPTISAN – Percik atau Selam ?

Yohanes Ang  & Edwin Nugraha Tjandraputra

Praktek baptisan sering menjadi kontroversi, selama ini gereja nyaris terpecah-pecah dan saling tidak menyapa gara-gara “cara baptisan”, maksudnya, soal manakah cara baptisan yang paling tepat dan shahih : percik atau selam?.

Dan selama ini pula, kita hanya berkutat pada perdebatan mengenai makna yang tepat dari kata Yunani : Baptiso (Baptizo), Baptizein (Baptizein).

Gereja-gereja yang ngotot mempertahankan baptisan selam biasanya mengutip surat Roma 6:4, dan Injil Markus 1:10 untuk menekankan “keluarnya Yesus dari air” ( yang konon diartikan :selam). Sedangkan gereja-gereja yang melakukan baptisan percik  (yang lebih toleran karena tidak keberatan dengan cara penyelaman), punya dasar “Alkitabiah”  dari banyak ayat-ayat dalam Alkitab, bIsa disebutkan salah satunya antara lain : Makus 7:3-4, dimana kata Yunani :Baptiso

Baptizo juga yang diterjemahkan :”pembasuhan”. Ungkapan “ean me Baptisoontai” (Yunani: ean me baptisoontai) ditejermahkan : tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.

Perbedaan seperti itu tidak pernah mencapai titik temu dan hanya menghabiskan energi untuk perdebatan-perdebatan kecil yang bersifat khilafiah (meminjam istilah Islam).  Padahal dengan melihat sejarah gereja selama 20 abad ini tidak pernah “cara baptisan”

dipermasalahkan sampai munculnya gerakan anabaptis (baptis ulang) pasca-Reformasi Luther .

Dalam sejarah gereja, pada masa-masa sebelum  munculnya “ahl al-bid’ah fundamentalistik” cara baptisan tidak pernah menjadi masalah, karena yang penting bukan “dengan cara apa kita dibaptiskan”, tetapi “dengan nama siapa kita dibaptiskan”

Baptisan selam atau percik, tidak soal, cara tidak penting, yang penting adalah syarat sahnya baptisan harus dilandasi: “Dalam nama Bapa , Anak dan  Roh Kudus” (Matius 28:19).

Oleh sebab itu baptisan yang dilaksanakan secara gerejawi diakui oleh GKI, dan apabila orang bersangkutan masuk keanggotaan GKI, ia tidak dibaptiskan lagi. (baptis ulang adalah pelecehan yang menunjukkan kejemawaan rohani).

Kitab Didache

Ada dokumen Gereja Purba dari akhir abad pertama Masehi, yaitu :

Didache Ton Dodeka Apostolon (Pengajaran Yesus dengan Perantaraan Rasul-rasul) yang ditulis pada tahun 85-95 Masehi,  teks lengkap Didache menurut versi Yunani dan terjemahan Inggris, dimuat dalam J.B.Lightfoot and J.R.Harmer (ed.), The Apostolic Fathers: Greek Text with Introduction and English Translation (Michigan: Bake Book House, 1984), pp.215-235.

Meskipun Didache tidak termasuk dalam kanon Alkitab (dan memang oleh penulisnya tidak dimaksudkan sebagai kitab kanonik), tetapi dokumen ini secara historis sangat berharga, karena berasal dari masa Rasuli. Kita dapat membandingkan dengan Injil Yohanes yang baru ditulis pada akhir abad pertama oleh Rasul Yohanes (kira-kira tahun 80-90 Masehi), Didache ditulis sezaman dengan Injil Yohanes.

Dalam Didache 7, ternyata soal cara baptisan tidak pernah menjadi masalah.  Untuk lebih jelasnya, dibawah ini dapat kita kutipkan teks Kitab Didache 7 yang selengkapnya sebagai berikut :

Mengenai Baptisan, hendaknya kamu melakukan pembaptisan sebagai berikut:  kamu harus melakukan pembaptisan: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di dalam air yang cukup untuk menyelam. Tetapi  seandainya air yang cukup tidak ada padamu, lakukanlah pembaptisan di dalam air yang lain; jikalau tidak bisa di dalam air yang dingin, boleh juga di dalam air yang panas. Kalau juga air panas tidak ada, curahkanlah air ke atas kepala orang yang dibaptiskan sebanyak tiga kali: Demi Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Sebaliknya sebelum pembaptisan dilayani, baik sang pembaptis maupun yang akan dibaptiskan itu hendaknya berpuasa, dan kalau mungkin juga beberapa orang lain yang mendampinginya. Tetapi yang dibaptiskan hendaknya berpuasa selama satu atau dua hari sebelumnya.

Baptein dalam Perjanjian Lama

Dalam PL ada istilah “Baptein”  (baptein) yang artinya adalah : “mencelupkan kakinya ke dalam air” (Yosua 3:15), “mencelupkan jari ke dalam darah itu” (Imamat  4:6, 17), “dimasukkan ke dalam air” (Imamat 11:32), dan Naaman “membenamkan diri” ke sungai Yordan (2 Raja-Raja 5:14).

Adat “pembasuhan” dalam Perjanjian Lama menunjukkan ritus “Penyucian” atau “pengudusan” dan pembersihan itu sendiri bukan simbol atau lambang, jadi disini air itu dianggap MEMPUNYAI KEKUATAN MAGIS untuk “penyucian”  sehingga seperti dalam kasus Naaman haruslah dilakukan sampai tujuh kali.

Baptisan Yohanes

Dalam Injil Markus 1:4-11 menunjukkan bahwa baptisan Yohanes adalah kelanjutan (penerus) dari adat pembasuhan Perjanjian Lama, namun dengan diberi pengertian baru, yaitu bukan pembasuhan atau airnya tetapi makna yang dilambangkan oleh baptisan itu.

Bukan sebagai penyucian tetapi sebagai “lambang pertobatan”  (Kis 19:4) untuk menerima “pengampunan dosa” (Lukas 3:3).

Meskipun sama dengan menggunakan air juga, namun baptisan Kristen pengertiannya sudah berbeda dengan kebiasaan dalam Perjanjian Lama yang menganggap bahwa air itu yang menyucikan (seperti kasus Naaman).

Jika adat “pembasuhan” Perjanjian Lama lebih mempunyai arti sebagai penyucian diri, maka baptisan Yohanes bersifat eskatologis menuju kepada Kristus yang akan membaptiskan dengan Roh Kudus (Markus 1:7-8).

Dalam baptisan Yohanes sekalipun masih menyisakan pengertian “penyucian diri dari dosa” tetapi sifatnya sudah hanya menjadi bayangan yang melambangkan pertobatan dan pengharapan akan kebangkitan Kristus.

Dalam konteks ini umat Kristiani memahami bahwa Perjanjian Lama itu :

A shadow of thngs to come, but the substance is of Christ.

Percik atau Selam

Sekarang yang menjadi soal adalah baptisan mana yang Alkitabiah?,  apakah dengan diselam atau cukup dipercik?

Alkitab (kecuali dalam pengertian Perjanjian Lama) memang tidak menjelaskan “bagaimananya”  kecuali bahwa “baptisan melambangkan pertobatan, pengampunan dosa dan pengharapan kebangkitan dalam Kristus”.

Yohanes Pembaptis memang membaptiskan di sungai Yordan tetapi tidak dijelaskan apakah diselamkan atau hanya masuk ke dalam air itu kemudian kepalanya diguyur atau diperciki air (seperti bisa dilihat dalam film Yesus of Nazareth).

Dalam banyak kasus pembaptisan terjadi ditempat-tempat yang jauh dari sungai Yordan atau sungai lainnya, dan selama masih ada air (air sumber atau air sumur), mereka bisa dibaptis.

Ini berarti bahwa yang penting “Air” sebagai lambang dan bukan selamnya, dan yang jauh lebih penting adalah “yang dilambangkan dalam baptisan” itu, yaitu:

“pertobatan, pengampunan  dosa dan pengharapan kebangkitan dalam Kristus”, orang yang disalib bersama Yesus diselamatkan tanpa kesempatan dibaptis.

Yohanes menyamakan baptisan air yang ia lakukan dengan baptisan Roh Kudus yang dilakukan oleh Yesus, dan menarik untuk diamati bahwa baptisan Roh Kudus tidak berarti para Rasul tenggelam dalam kobaran api (band Keluaran 3:2) tetapi sebagai lidah-lidah seperti nyala api  yang bertebaran dan hinggap diatas para Rasul (Kisah Para Rasul 2:3) dan yang penting dalam arti maknawinya  bahwa para Rasul penuh dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:4).

Rasul Paulus menyamakan baptisan dengan peristiwa ketika Musa dan umat Israel dibaptis “dalam awan dan dalam laut” (I.Korintus 10:1-2). Dalam hal ini tidaklah tergambar bahwa mereka tenggelam dalam awan (seperti pesawat terbang masuk awan), atau laut (seperti kapal selam). Mereka hanya dinaungi oleh awan dan ketika menyeberangi lautpun mereka tidak tidak basah kuyup (mungkin hanya terkena percikan embun) melainkan berjalan di tempat kering (Keluaran 14:16, 29), tetapi yang basah kuyup dan diselamkan (baca: tenggelam) malah tentara musyrikin Firaun yang mengejar orang Israel (Keluaran 14:23-28). Paulus juga mengatakan bahwa dalam Yesus kita dikuburkan dalam baptisan (Kolose 2:12).

Kisah Filipus dan pembaptisan Sida-sida dari tanah Etiopia sering dipakai sebagai  pembenaran baptisan selam, padahal kisah pembaptisan Sida-sida Etiopia ini tidak menunjukkan dibaptis selam, ayat 38-39 dari Kisah Para Rasul pasal 8 ini hanya menceritakan mereka turun ke dalam air. Apakah tenggelam atau hanya sebatas setengah badan tidak dijelaskan.

Yang jelas ayat itu menggunakan kata depan “eis”  yang artinya masuk ke dalam air dan bukannya berarti tenggelam.

Dalam hal kata depan menuju air, ada 5 kata Yunani, yaitu: pros-eis-en-ek-apo””””””””””””””””” pros -eis- en -ek -apo “ Pros” berarti menuju air, “eis” masuk ke air, “en” berada dalam air, “ek” artinya keluar dari air, dan “apo” berarti dari air.

Dalam ayat ini yang digunakan adalah kata Yunani eis (masuk) dan ek (keluar) Jadi bukan tenggelam (en).

Baptizo memang bisa berarti menyelamkan atau mencelupkan , tetapi itu bukan satu-satunya arti sebab bisa juga berarti membasuh atau membersihkan dengan air (Markus 7:4; Lukas 11:38). Dalam kasus pembaptisan kepala penjara misalnya, tidak ada kesan bahwa kepala penjara dan seisi rumahnya dibaptis di sungai sebab konteksnya menyebutkan bahwa mereka berada di rumah (Kisah Para Rasul 16:30-34).

Kata Yunani Baptizo tidaklah harus mutlak diartikan :”selam”, untuk mencoba menjelaskan dapatlah dipakai perumpamaan sederhana sebagai berikut:

Kata dalam bahasa Indonesia “makan” dalam beberapa kamus (Poerwadarminta, Badudu-Zein, Anton Moeliono dan Peter Salim) semuanya sepakat memberi arti : memasukkan sesuatu ke dalam mulut , namun tidaklah mutlak harus diartikan seperti itu, sebab ada juga yang bermakna kias, seperti misalnya: “makan angin”, “makan keringat orang” ,”makan uang” dan seterusnya.

Rasul Petrus menulis dalam suratnya: “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan – maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah- oleh kebangkitan Yesus Kristus”  (I.Petrus 3:21)

Menarik juga untuk diperhatikan bahwa dalam ayat 20 (I.Pet 3:20), Rasul Petrus Menyamakan baptisan sebagai kiasan “bahtera Nuh”, jelas bahwa bahtera itu hanya “tempat mengapung” dan bukan “kapal selam” jadi walaupun basah kuyup karena diguyur hujan terus-menerus, tapi tentu saja banyak bagian dinding bahtera yang kering.

Baptisan Ulang

Dari beberapa contoh yang disebutkan diatas kita melihat bahwa baptisan air hanyalah lambang, dan yang jauh lebih penting adalah  “apa yang dilambangkannya”, Alkitab tidak mempermasalahkan harus dipercik atau selam, jadi bisa dengan cara apapun selama “air”lah yang dipakai.

Yang terpenting dalam upacara baptisan adalah benar-benar ada iman, kesadaran akan dosa dan mengakuinya, bertobat dan disertai pengharapan akan kebangkitan dalam Kristus.

Apakah kita perlu dibaptiskan ulang? Baptisan ulang biasa dilakukan oleh aliran-aliran fanatik dalam keKristenan yang menganggap bahwa baptis selam itu lebih afdal, lebih Alkitabiah, lebih lahir baru ketimbang baptis percik, dan menekankan lambang lebih penting dari yang dilambangkan

Sedangkan dalam upacara baptisan yang dilambangkan itulah yang diucapkan/diikrarkan, yaitu iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan pengharapan akan kebangkitan dalam Kristus, dan telah dilakukan dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, maka dengan mengulang baptisan itu sama artinya dengan melecehkan “pengakuan dan sakramen dalam nama Allah Tritunggal” yang telah diucapkan dengan iman oleh orang yang dibaptis dan Pendeta yang membaptisnya.

Kita perlu berhati-hai untuk tidak lebih menekankan lambang daripada yang dilambangkan, yang jadi soal dikalangan yang menekankan baptisan selampun sebenarnya banyak terjadi penafsiran yang terkilir keliru.

Ada yang telah dibaptiskan selam, tetapi ketika pindah kegereja yang sama-sama beraliran “selam”pun harus dibaptiskan ulang kembali, karena berbagai alas an, ada yang menyebut karena belum dibaptiskan oleh hamba Tuhan yang diurapi, adapula yang menyebut karena airnya harus mengalir, jadi tidak absah kalau di dalam kolam atau dalam sekitar gereja yang airnya diam. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, yang mengatakan bahwa baptisan baru sah bila diselam di sungai Yordan di tanah suci seperti yang dilakukan Yesus dan para Rasul.

Orang yang melakukan hal itu jelas tidak mau mengerti akan arti atau makna baptisan itu sendiri. Sebab orang yang mau dibaptis ulang itu dapat diibaratkan  sebagai orang yang tidak sadar bahwa pertobatan dan imannya  yang sudah diakuinya dalam baptisan pertama tidak sah atau telah “murtad” lagi sehingga merasa perlu untuk mengulangnya kembali mengaku dosa dan iman baru lagi. Ini merupakan pelecehan rohani, seperti disebutkan dalam Kitab Ibrani:

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok  dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barang siapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.

Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh.

Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia , dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya.

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum” ( Ibrani 5:12-14;  6:1-6).

Ajaran GKI Tentang Baptisan

Sehubungan dengan terdapat dan menjalarnya ajaran lain mengenai baptisan diluar gerejadan mempengaruhi anggota jemaat, perlu ditegaskan beberapa hal mengenai baptisan yang menjadi ajaran GKI:

1.Baptisan Roh sebagai tanda khusus dan tambahan pada baptisan air tidak dapat diterima oleh GKI karena itu berarti kita kurang mengakui kelengkapan anugerah yang diberikan oleh Kristus pada orang-orang percaya, atau dengan perkataan lain praktek baptisan Roh adalah manifestasi dari pandangan yang beranggapan  anugerah Kristus tidak sempurna.

2. Baptisan ulang sebagai akta khusus dan pengukuhan baru pada baptisan yang telah diterima sebelumnya tidak dapat diterima oleh GKI karena itu berarti tanda meterai suci yang sebelumnya tidak bermakna apa-apa. GKI tidak akan melakukan baptisan ulang jika baptisan yang diterima sebelumnya  dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus

3. Baptisan selam sebagai akta khusus dan tambahan pada baptisan percik tidak dapat diterima oleh GKI, karena makna yang dikandung dalam baptisan jauh melebihi soal cara bagaimana baptisan itu dilakukan. Dalam hal ini GKI berada dalam tradisi yang memakai baptisan air dengan percikan.

4. Baptisan liar yang dilakukan pribadi ataupun kelompok yang bukan gereja tidak dapat dibenarkan oleh GKI, karena baptisan merupakan sakramen yang oleh Tuhan dipercayakan dalam tanggung-jawab gereja. Baptisan liar seperti dimaksud ini merupakan manifestasi dari tidak adanya penghargaan para pelakunya terhadap tubuh Kristus yaitu gereja, dimana Yesus menjadi Kepala.

5. Baptisan Anak merupakan ajaran reformasi yang dipegang oleh GKI. Alkitab beberapakali menyebut (secara implisit) dilakukannya baptisan anak. Hal ini ditempuh berdasarkan keyakinan bahwa anak-anak dalam keluarga orang percaya terhisab dalam perjanjian Allah. Sebab itu penolakan terhadap baptisan anak oleh kalangan luar gereja, dengan alasan anak-anak belum mengerti, tidak dapat dibenarkan oleh GKI.

Pandangan seperti itu menahan hak anak untuk menerima meterai suci dari perjanjian Allah dan membedakan secara hakiki manusia ciptaan Allah.

Copy Kamus Alkitab

Seperti yang telah disebutkan diawal tulisan ini bahwa praktek baptisan sering menjadi kontroversi, dan itu terlihat jelas misalnya dalam kamus Alkitab yang terdapat pada bagian belakang dari Alkitab kita.

Dari tahun ke-tahun dalam setiap penerbitan Alkitab, KAMUS ALKITAB dari “a” Sampai “z” hampir tidak mengalami perubahan arti, kecuali tentang “PEMBAPTISAN” yang selalu direvisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s