VITALNYA AYAT FATALNYA HUJAT

Perlu saya tekankan bahwa apa yang dikatakan oleh pemandu acara tadi bukan promosi tapi barangkali Cuma pemasaran, meski saya jadi merasa jengah  karena harus menanggung beban berat , tergagap-gagap tergugup-gugup karena saya kuatir jangan-jangan saudara akan kecewa setelah melihat sosok Yohanes Ang itu orangnya nggak berbobot.kurang dari 50 kilo, Kecil, kurus.

Terus terang saya akui bahwa memang saya kurus tapi tidak mengkhawatirkan organisasi kesehatan dunia, walau keadaan jasmani di usia yang tidak tergolong muda lagi ini agak mulai bermasalah, namun keadaan rohani justru  semakin mantap, semakin arif,  semakin bijak bestari.

Saudara2 maafkan saya jika diawal tadi saya tidak menyapa saudara-saudara dengan sapaan  kekristenan  yang biasa diucapkan dalam kesaksian dan pelbagai kegiatan gereja lainnya, yaitu: SAPAAN SYALOM yang belakangan ini kayaknya lagi ngetrend, banyak yang menggandrunginya sebagai prayojana gaya hidup isyarat penampilan fisik agamawi.

Saya tidak mengucapkan itu sebab menurut  saya sapaan salam sejahtera rasanya lebih akrab, lebih afdal, lebih membumi lebih indonesiawi, ketimbang SYALOM yang lengkapnya Syalom alaikehm besem hamasia yang berkesan amat sangat Yahudi banget gitu lho.

Tapi ini bukanlah berarti saya anti Syaalom, maksud saya mau pakai syalom boleh, tanpa syalom juga bukan dosa, sama halnya dengan surga yang tidak ditentukan oleh tepuk tangan atau tidak tepuk tangan.

BAIK, DALAM KESEMPATAN INI SAYA INGIN MENYAMPAIKAN KESAKSIAN

PERIHAL APA YANG PERNAH SAYA ALAMI.

DENGAN SEJUJUR-JUJURNYA, SEBENAR-BENARNYA, DAN JUGA TIDAK MENAMBAHKAN AJINOMOTO YANG TERLALU BANYAK.

Saudara-saudara  saya tidak akan bersaksi perihal perkara-perkara besar, prestasi-prestasi rohaniah yang menunjukkan kejemawa-jemawaan rohani, keperlente-perlentean gerejawi dimana salib keliru dipikul  seraya berharap pujian, tapi saya ingin membagikan kesaksian tentang kerohman rahimian Tuhan, kesaksian  sederhana yang jauh  dari hal-hal fantastic, namun punya harga ketulusan.

Ada 2 kesaksian yang ingin saya sampaikan:

1. VITALNYA AYAT FATALNYA HUJAT

2. PASRAH BERSERAH KEHENDAKMU JADILAH

Saya mulai dari yang pertama:

Saudara-saudara sebenarnya saya ini orang yang paling suka humor, bagi  saya barangkali tiada hari tanpa guyon, dan hidup tanpa gurauan rasanya ibarat sayur zonder vetsin.

Arkian, 26 tahun yang lalu, tahun 1980, tanggal dan bulannya saya lupa, ( memang satu peristiwa lama namun dijamin tidak basi, karena saya menyampaikannya bukan dengan basa-basi tapi dengan basa-segar ) ketika sedang asyik ngobrol dengan teman2 segereja di Pos  Jemaat Losarang. Seperti biasanya selalu

ada saja guyonan yang saya lontarkan. Waktu  itu saya ambil dari ayat Alkitab yang LUKAS 11:9  MINTALAH MAKA KAMU AKAN DIBERI, CARILAH MAKA KAMU AKAN MENDAPAT, KETOKLAH  MAKA PINTU AKAN DIBUKA………….

Ayat ini kemudian saya sambung  BUKALAH PINTU MAKA MALING MASUK.

Dan setelah itu  apa yang terjadi?  Kontan besoknya rumah saya benar-benar dimasuki pencuri, ada maling masuk mengambil banyak barang-barang saya, bahkan sampai masuk kedalam kamar tidur saya mengambil sandal dikolong tempat tidur.

Saat itu saya sadar bahwa Tuhan tidak berkenan atas kelancangan saya main-main dengan ayat Alkitab. Tuhan menegur dan menjewer saya.

Saudara peristiwa itu benar-benar mengingatkan saya untuk tidak main-main dengan Kalam Tuhan, karena Firman Tuhan itu bukan barang mainan.

Meskipun Alkitab bukanlah sebuah buku yang turun dari langit, sebagaimana pemahaman fundamentalistik yang literal, harfiah, namun Alkitab ini DIILHAMKAN ALLAH, bukan buku biasa tapi buku luar biasa yang mampu merubah orang yang membaca serta menghayatinya, dari laknat jadi taat, dari bedebah menjadi bertobat.

Kita jangan jadikan Alkitab sebagai jimat, tapi kita juga jangan menghujat.

FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku

Saudara-saudara dapat belajar dari apa yang pernah saya alami itu, untuk tidak mengikutinya.

KESAKSIAN YANG KEDUA:

PASRAH BERSERAH KEHENDAKMU JADILAH

Mungkin diantara saudara sudah tahu bahwa kami  dikaruniai Tuhan 2 anak perempuan

dan 1 anak laki-laki.

Anak yang pertama : NOVI  ANGELIN CHRISTIANI,                                                         anak yang kedua: HANSEN ANGGRIAWAN, yang hanya 3 tahun hadir ditengah keluarga kami, lahir tahun 1991  dan pada tahun 1994  Tuhan ambil kembali.              Anak kami yang ketiga: ASPRILLIA YOHANNA CHRISTIANI, si  bungsu yang

sekarang bersekolah di SD BPK PENABUR  INDRAMAYU.

NOVI Anak pertama sekarang kuliah di Fakultas Psikologi pada satu Universitas di Jakarta.

Ada  yang menanyakan pada saya Pak Yohanes kenapa anaknya tidak dimasukkan ke

Sekolah Teologi saja, tapi Psikologi?

Menjawab pertanyaan tadi saya mengatakan: sebagai orang tua tentu saja saya tidak bisa dan tidak baik memaksakan kehendak, terserah anak, pilihannya apa.

Itu alasan pertama, dan alasan kedua: anak saya kelihatannya kurang berminat kesitu,

karena teologi itu ilmu yang berat, berbeda dengan psikologi.

PSIKOLOGI adalah ilmu terbatas yang hanya mengamati meneliti tingkah laku manusia

Sedang TEOLOGI adalah ilmu yang mengamati meneliti tingkah laku Tuhan.

Maaf, alasan yang kedua tadi hanya gurauan saja.

Baik, sekarang saya ingin bicara tentang anak saya yang kedua, Hansen, yang  saya angkat dalam kesaksian ini.

20 Mei 1994, saudara, ditengah kebahagiaan keluarga kami mendadak muncul awal dari

petaka yang sangat tidak kami harapkan, Hansen suhu badannya panas tinggi dan seringkali disertai kejang.

Akhirnya langsung saya bawa ke Rumah Sakit BOROMEUS di Bandung untuk memperoleh perawatan.

Sesampainya di rumah sakit kemudian dilakukan tindakan emergency sebagaimana

lazimnya, seperti pemberiaan oksigen, infus, pemasangan sonde serta tindakan medis lainnya.

Berhari-hari Hansen tidak sadar, keadaan umumnya makin lama makin menurun,

Saya dan istri yang menungguinya di rumah sakit hanya bisa menangis dan berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan anak kami.

Saudara-saudara ketika diambil tindakan lumbal fungsi oleh dokter, yaitu mengambil cairan sumsum tulang belakang, kami berdua benar2 tak tega mendengar tangisan Hansen

yang begitu memilukan dengan disertai jeritan lirih yang tertahan-tahan menahan sakit,

hati ini rasanya seperti tersayat pedih  saudara, saya mulai berontak memprotes Tuhan,

Tuhan Yesus mengapa ini harus terjadi pada anak saya, kenapa bukan saya saja orang tuanya yang harus menanggung azab ini, apa dosa anak saya yang masih belum bisa mem

bedakan perkara baik dan buruk, hitam dan putih, benar dan salah, tapi harus menanggung sakit seperti itu  saya bersedia untuk menggantikan apa yang diderita anak saya Tuhan.

Saudara, kemudian dokter memberitahu saya  bahwa dari hasil pemeriksaan Computerised Tomografi atau CT SCAN disana ditemukan adanya jejak virus toxoplasmosis yang sudah lama menginfeksi otak bagian GANGLIA BASALIS, dan hasil diagnosanya penyakit yang diderita Hansen adalah HALERFONDENSPAT DISEASE, satu penyakit unik yang kasusnya jarang ditemukan, agak mirip tapi lebih dahsyat dari penyakit PARKINSONnya petinju Muhammad Ali.

Lalu dokter yang merawatnya menyarankan pada saya agar sebaiknya pindah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina di JAKARTA, karena disana katannya ada seorang dokter akhli bedah otak, Prof. Satyanegara.

Hari itu juga Hansen kami pindahkan dari Boromeus ke RS Pusat Pertamina di Jakarta.

Dan saudara, setelah hampir satu bulan dirawat disitu ternyata tidak ada kemajuan apa-apa, anak kami masih tetap  dalam kondisi koma.

Saudara, tidak banyak yang bisa kami lakukan, kecuali hanya menangis dan berdoa pada

Tuhan mengharap kesembuhan atas anak kami.

Dua bulan sudah kami selalu tidur bergantian didalam mobil yang dparkir dihalaman Rumah  sakit.

Selama 2 bulan di Rumah Sakit saya banyak belajar dari pemandangan silih bertukar yang terekam di selaput jala mata saya akan  rahasia kehidupan manusia.

Ada yang pulih dan pulang, ada yang datang dan tinggal, serta tak sedikit yang sekedar

menumpang lantas berpulang.

Kemudian saudara,  saya mendengar bahwa di Rumah Sakit Harapan Kita Grogol dekat

DHARMAIS disana ada peralatan baru namanya MRI (MAGNETIC  RESONANCE IMAGING)

yang konon dapat melihat lebih detail tentang otak ketimbang  CT SCAN konvensional.

Diidorong oleh keinginan agar anak kami bisa sembuh, maka kami pindah lagi dari Rumah Sakit Pusat Pertamina ke Rumah Sakit Harapan Kita.

Di Harapan Kita Hansen masuk ruang ICU, dan saudara, di ICU berbeda dengan dikamar

Rawat biasa, disitu hanya  boleh ditunggu diluar  dan hanya bisa dijenguk setiap jam bezook saja,

Atau kalau kami rindu ingin melihat Hansen, itu bisa dilihat dari balik kaca.

Saudara, jika saya menitikkan air mata itu bukan air mata telenovela, tapi benar-benar merupakan ekspresi kepedihan dari lubuk hati yang paling dalam

Saudara, ada hikmah yang bisa saya dapatkan di ruang tunggu ICU, dimana disitu berkumpul segala macam orang, dari berbagai latarbelakang, baik suku, etnis maupun keyakinan, campur aduk  antara wong sugih wong melarat, wong goblok wong pinter, dimana perbedaan sudah tidak ada artinya lagi,  benar-benar kebhinekaan yang sejati, semuanya tidur beralaskan tikar.

Dalam situasi seperti itu orang yang belum saling mengenal sekalipun akan bisa saling merangkul dan menangis bersama untuk saling berbagi penderitaan.

Semuanya yang ada disitu diikat oleh keprihatinan yang sama akan kesakitan seseorang

yang mereka kasihi, entah itu anak, orang tua, saudara atau teman.

Tampak ada suasana kebersamaan yang begitu polos dan tulus, saling menyapa, saling

mengasihi, saling peduli, dan itu terjadi di ruang tunggu BAGIAN PERAWATAN INTENSIF dalam Rumah Sakit.

Bagaimana dengan suasana di Rumah Tuhan, yang punya ruang tunggu bagi orang yang

mengharapkan kesembuhan iman?

Apakah suasananya lebih baik dari ruang tunggu ICU atau malah mungkin sebaliknya.

Jika lebih baik, itu memuliakan, tapi jika sebaliknya itu memalukan.

Karena eklesia seharusnya dilengkapi dengan nurani, agar kasih yang melayani itu

bukan hanya slogan yang tak jelas akurasi maknawinya, tapi benar-benar terjadi secara konkrit, ada kebersamaan, ada kesehatian, saling peduli, saling mengasihi seraya menepis

sindiran bahwa Protestan itu anak manis diluar gereja, tapi anak nakal didalam gereja.

Dengan kasih yang melayani maka orang akan betah dan butuh Rumah Tuhan seperti orang sakit parah membutuhkan ruang ICU.

Saudara, setelah hampir 20 hari dirawat di ruang ICU, PUJI TUHAN mulai tampak ada

tanda-tanda kearah yang lebih  baik, kesadaran Hansen berangsur-angsur pulih dan mulai dapat mengenali papi dan maminya, dan 2-3 hari kemudian dokter membolehkan kami

membawa Hansen pulang ke rumah.  Saat itu kami benar-benar merasa sukacita, ada ceria batin yang berpengharapan, meskipun belum sembuh total tapi kami sekeluarga bahagia sekali rasanya, kami selalu menaikkan mazmur syukur bagi Tuhan.

Namun saudara hal itu berlalu terlalu cepat, setelah 40 hari berada dirumah, mungkin karena kesadarannya sudah makin membaik, Hansen merasa risih dengan slang plastic

Sonde untuk memasukkaan makanan melalui lubang hidungnya.

Tanpa sepengetahuan kami dan juga pembantu yang menjagainya, slang sonde itu lepas, ditarik keluar. Tentu saja ini menjadi masalah, karena Hansen masih belum bisa dikasih

makanan lewat mulut. Dan kemudian saya minta bantuan dari seorang perawat Rumah Sakit, untuk memasang kembali sonde itu.

Tapi apa yang kemudian terjadi saudara rupanya cara kerja si perawat tadi kurang professional, slang sonde yang dimasukkan kelewat panjang sampai menusuk gaster atau dinding lambung dan menyebabkan perforasi, luka robek pada lambung , Hansen kemudian muntah darah segar berkali-kali dengan disertai panas yang tinggi.

Kemudian langsung dibawa ke Cirebon, karena Jakarta terlalu jauh, saya pilih yang dekat supaya bisa segera mendapatkan pertolongan.

Pukul 21.00 masuk Rumah Sakit Gunung Jati, langsung ditangani oleh dokter, ternyata pertolongan yang diberikan tidak berhasil, Hansen tidak bisa diinfus karena pembuluh darahnya kolaps akibat pendarahan yang terus-menerus.

Saudara ketika tangan manusia, tangan dan upaya dokter tak lagi mampu melakukan apa-apa, saat itu kami takut kehilangan Hansen, kondisi paling buruk yang kami hadapi saat itu benar2 membuat diri serasa dihimpit beban berat, seperti anak domba malang yang terlempar kedalam ngarai gelap hitam dengan ketiadaan jalan kelepasan.

Lewat tengah malam  kira-kira Jam 01 Tuhan mengambil nyawa Hansen,  coba saudara

bayangkan bagaimana perasaan hati  dan pikiran kami melihat buah hati yang terbujur  kaku tak bernafas lagi.

Disitu saya marah kepada Tuhan,                                                                                   Tuhan Yesus saya tidak bisa menerima ini, kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi

Kenapa  Hansen harus mati, saya dan istri saya menjerit menangis meratapi  kematian  Hansen.

Tuhan Yesus Engkau berkuasa, orang mati engkau bangkitkan, orang lumpuh berjalan,

Orang buta melihat, kenapa anak kami tidak engkau sembuhkan?

Mana janjimu yang mengatakan bahwa umatMu meskipun jatuh tidak akan tergeletak,

saya tergeletak kenapa Tuhan diam, saya tidak kuat lagi Tuhan.

Tuhan ternyata bukan hanya Maha Kasih tapi juga Maha Kejam, sadis dan semena-mena.

Saat itu saya menjadi seperti orang kurang waras saudara, kata-kata hujat tadi tanpa sadar

keluar dari mulut saya.

Dan ditengah isak tangis itu saudara, saya teringat akan kisah Raja Daud  yang mendadak  sontak muncul  dalam ingatan saya.

Ketika anaknya sakit, Daud berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anaknya mati Daud

Bangun tidak menangis lagi dan makan.

ketika ditanya oleh pegawai-pegawainya mengapa Daud melakukan itu, Daudpun

Menjawab: selagi anak itu masih hidup ia berpuasa dan menangis, memohon pada Tuhan agar anaknya tidak mati, tetapi setelah anaknya mati Daud berserah pasrah dengan ikhlas.

‘AKU AKAN PERGI KEPADANYA, TETAPI IA TIDAK AKAN KEMBALI LAGI”.

Kisah ini merupakan terapi yang mujarab bagi saya, membuat saya sadar bahwa yang sudah meninggal tak kan bisa kembali lagi.

Dan saudara Kalam Tuhan yang termaktub dalam Yosua 8:8 memberikan kekuatan serta

Penghiburan bagi kami:

“TIADA SEORANGPUN BERKUASA MENAHAN ANGIN DAN TIADA SEORANGPUN BERKUASA ATAS HARI KEMATIAN”.

Ayat ini seakan suara Tuhan sendiri  yang manis dan lembut sebagai penghiburan dan kekuatan bagi kami.

Saudara ketika airmata dipipi belum lagi kering , kembali keluarga kami diterpa kesedihan, hanya 23 hari setelah kematian cucunya, ayah yang kami kasihipun pergi meninggalkan kami.

Papa  meninggal secara mendadak di usia 66 tahun  dengan tanpa ada tanda-tanda sakit

atau menderita penyakit sebelumnya, jam 10 malam kami masih sempat ngobrol dan nonton TV bersama, dan ayah kami masih terlihat sehat.

Pukul 4.30 dini hari, papa mengeluh sesak nafas, kemudian papa berkata: rasanya saya

sudah tidak kuat lagi, Dan saya menjawab tidak papa, papa harus hidup, kami masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan papa.

Kemudian kami mengajak papa berdoa, dengan suara lirih saya masih sempat mendengar

Papa menyebut nama Tuhan Yesus, dan ini merupakan detik-detik terakhir dalam kehidupannya

Peristiwa ini berlangsung cepat, papa berpulang dalam posisi duduk dan tangan terlipat,

Berdoa.

Meski semasa hidupnya ayah kami belum tercatat sebagai anggota jemaat gereja, namun

disaat-saat terakhir ayah menutup mata dengan berpengharapan akan kepastian keselamatan dari Tuhan Yesus.

Sunnguh luar biasa dan manis saudara, seperti yang tertulis dalam Kitab Wahyu:

Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, supaya mereka boleh beristirahat dari jeri lelah mereka”

Itulah apa-apa yang pernah saya alami, yang saya sampaikan dalam kesaksian saat ini

Ibarat sebuah novel yang tidak berakhir dengan “HAPPY ENDING”, bukan kesaksian tentang mujizat dahsyat yang turun dari langit, bukan kesaksian fantastis spektakuler

Perihal kesembuhan Ilahi, Kesuksesan materi,  atau naik jabatan ke posisi penting dan seterusnya.

Namun kesaksian ini adalah kesaksian tentang penyerahan diri, dan mempersilahkan tangan Tuhan bertindak  dan kehendaknya berlaku dengan leluasa

Kiranya kesaksian saya tadi dapat menguatkan kita, walaupun akhir dari apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kehendak dan harapan kita. Namun justru kita boleh belajar seperti Paulus bahwa di dalam kelemahan kita, maka kuasa Allah semakin sempurna.

Di dalam segala sesuatu yang terjadi (walaupun tidak sesuai dengan keinginan kita), kita masih tetap dapat melihat kasih dan kebaikan Tuhan yang tetap memelihara kehidupan kita.

Kesedihan memang ada, namun di dalam kesedihan yang terjadi, kita dapat melihat bahwa kasih Tuhan tetap dinyatakan, karena Tuhan tidak akan membiarkan kita menghadapi kegetiran nestapa dengan tanpa sedikitpun penghiburan, Tuhan memberikan saya dan keluarga Keteguhan iman, kedamaian dan keikhlasan dalam jiwa

Dimana air mata dukacita akan kering, dan mata air sukacita akan mengalir.

Setiap saat saya mensyukuri anugerah yang diberikan Tuhan, itulah energi yang menggerakkan kreatifitas saya dalam memberikan perpuluhan talenta baik berkat maupun bakat yang sudah Tuhan berikan pada saya.

Itu merupakan ibadah saya yang tak kunjung henti, saya jalani kehidupan ini dengan kepala terangkat namun hati bertobat.  AMIN.

TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA.

Disampaikan sebagai Kesaksian dalam acara Malam Puji dan Sabda                         GKI Indramayu Tanggal 08 Agustus 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s