INI NATAL, ITU ULANG TAHUN BUDI

Yohanes Ang

A

da hal menarik mengenai ucapan Selamat Natal di satu media cetak, yang mengatakan: Jika ada seorang non-Kristen yang tidak mengucapkan “Selamat Natal” kepada kawannya yang beragama Kristen,  sikapnya itu lebih dibentuk oleh alasan logis semata, bukan ideologis.

Karena Natal itu jarig atau birthday, maka kalau toh mau disampaikan sebagai ucapan, harus langsung disampaikan kepada yang bersangkutan. Misalnya: bila yang berulang tahun si Budi, maka bukan pada tempatya kita mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepada pacar si Budi, adik si Budi atau tetangga si Budi. Dengan kata lain yang dimaksud oleh si penulis dalam media cetak tadi adalah:“Jika Yesus yang berulang tahun  maka tidaklah tepat ucapan Selamat Natal itu disampaikan kepada orang Kristen.”

Mudah-mudahan orang yang mempersoalkan perihal ucapan Selamat Natal tersebut tidak sedang berkelakar, tapi hanya   karena kekurang-pahamannya saja tentang makna Natal, dan itu tentunya bisa dimaklumi.  Bagi orang yang berada diluar   komunitas Kristiani memang sulit untuk bisa membedakan antara “kemeriahan Natal” dengan “makna Natal,”karena hanya melihat kemasan-nya saja tanpa merasakan isinya. Apalagi melihat sikon yang dirasakan kasatmata, Natal diadakan dengan semarak tapi seringkali mengabaikan aspek sakral dan teologisnya, Natal menjadi semakin profan dan hampir mirip dengan pesta ulang tahun. Itu soalnya, mengapa ada anggapan bahwa Natal itu hanya sekedar bayi Kristus yang berulang tahun. Untuk mengubah kesalah-pahaman menjadi kesaling-pahaman memang bukanlah perkara mudah, sebab menyangkut juga perbedaan “penafsiran bahasa”  yang berawal dari Menara Babil.

Ada kelakar orang Turki yang mengatakan, perselisihan orang Israel dengan Arab di selatan negerinya, bukan karena hak Istri-istri  Abraham, Sarah dan Hagar, yang melahirkan Ishak dan Ismail, nenek moyang orang beriman itu; melainkan karena “dudaim.” Orang Yahudi menyebutnya “apel cinta”; sedangkan orang Arab menyebutnya “apel benci.” Berselisih soal bahasa dan arti tafsirnya bisa saja terjadi.

God dank, Pisang atau Pepaya

Di Solo, misalnya, ada Tambak Segaran. Dalam bahasa Jawa “tambak” adalah empang tempat ternak ikan, dan “segaran” berasal dari kata “segara” yang artinya “lautan.” Orang yang tidak tahu letak geografis kota Solo, pasti akan mengira bahwa Solo adalah kota pantai. Padahal disitu tak ada “segara”(laut). Konon awal mulanya, disitu dulu berdiri toko Belanda yang menjual “tabak” (tembakau) dan “sigaren” (rokok).

Ada satu cerita utak atik gatuk lagi yang bertalian dengan urusan perut, bahwa bahasa Jawa “gedang” itu berasal dari bahasa Belanda. Konon ceritanya ketika itu sepasukan tentara Belanda terpisah dari induknya dalam peperangan yang berlangsung di Jawa Tengah pada tahun 1825-1830. Berhari-hari mereka tidak makan. Ketika melintasi suatu lembah, akhirnya mereka tiba disebuah perkebunan pisang. Saking girangnya mendapat makanan, mereka mengucapkan syukur dalam bahasa Belanda, “God dank,” yang artinya “terima kasih Tuhan,” kemudian orang Jawa mengucapkannya jadi “gedang,” yang artinya pisang. Repotnya dalam bahasa Sunda, gedang itu berarti “pepaya,” mudah-mudahan saja orang Sunda tidak membuat versi lain tentang tentara Belanda yang mengucapkan “God dank” demi pepaya.

Dan hampir bisa dipastikan, jika saja kata gedang ini dibawa dalam PMK Klasis Cirebon, maka antara “utara” (GKI Indramayu, Jatibarang, Cirebon)  dengan “selatan” (GKI Tasikmalaya, Banjar, Ciamis)  tidak mungkin akan tercapai kata sepakat dalam menafsirkan arti gedang.

Kembali ke soal ucapan selamat Natal, Pdt. Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Natal” (BPK Gunung Mulia, 1981), memberi jawaban yang sangat bagus disertai argumentasi yang cerdas tentang apa alasannya mengucapkan selamat Natal.

Pertama-tama beliau menjelaskan bahwa arti selamat secara kamus adalah terpelihara dari bencana, seperti misalnya: Si Badu hampir tertabrak bis. Nyaris ia tewas. Akan tetapi, ia luput. Lalu dikatakan: ia selamat Bukankah demikian juga yang terjadi dengan manusia? menurut Mazmur 14 dan Roma 3, semua orang telah menyeleweng,  semuanya telah bejat, tidak ada yang benar, seorangpun tidak.  Selanjutnya Pdt.Andar mengatakan: manusia ibarat tenggelam dalam lumpur dan tidak dapat menyelamatkan dirinya, lalu Allah bukan menurunkan tangga, bukan pula memberi petunjuk bagaimana menyelamatkan diri, melainkan “mengutus AnakNya kedalam dunia untuk menyelamatkannya”(Yoh.3:17). Itulah Natal. Yesus datang sebagai Juruselamat. Ia menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Manusia jadi selamat. Sabda Ilahi turun dari surga dan menjadi manusia demi keselamatan kita.

Natal = Mysterion

Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah ( Yunani:  en arche en ho logos,  kai  ho logos en pros ton theon, kai theos en ho logos) Yohanes 1:1, dan Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Ibrani: We ha-Dabar nihyah Basyar, we syaken banu, we raonu et Kebodu, kabod kesyel yahid meat ha-Av, male hesed we emet) Yohanes 1:14.

Karena Firman telah menjadi manusia, maka Allah tidak lagi hadir berbareng dengan angin, badai dan kilat sabung menyabung seperti yang digambarkan dengan turunnya wahyu kepada Musa di gunung Sinai,  ketika itu ada jarak antara yang Ilahi dan insani. Tetapi dalam Kristus, surga dan bumi saling bercumbu, langit dan bumi bertemu, sebab Yesus bukan sekedar “menerima Firman Allah”  melainkan “Firman Allah itu sendiri”.

Semakin dalam kita menghayati “Natal-Nya” semakin dalam kita tenggelam dalam lautan misterinya.

Dalam bukunya yang baru terbit (Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2001, hal.617-618), untuk menjelaskan apa misteri Natal tersebut  maka Pdt. Dr.Eka Darmaputera mencoba membandingkannya dengan sakramen yang juga adalah misteri.

Menurut Pdt Eka, dalam pelaksanaan sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus, yang tampak dilakukan adalah sesuatu yang biasa. Ada orang diselamkan atau diperciki kepalanya dengan air, ada orang yang makan roti dan minum anggur, tidak ada yang luar biasa. Air yang dipakai adalah air yang biasa, bukan air ajaib. Roti dan anggur yang dipakai juga roti dan anggur biasa, yang dapat dibeli di toko-toko. Itulah “Mysterion,” bahwa dibalik apa-apa yang amat biasa itu terkandung sesuatu yang amat luar biasa. Orang-orang lain tidak menyadari dan tidak bisa memahaminya, tetapi orang yang percaya, amat memahami dan menghayati makna yang luar biasa itu. Dan oleh sebab itu sakramen mempunyai dampak istimewa dalam kehidupan orang percaya.

Natal adalah “mysterion.” Peristiwanya biasa-biasa saja:ada bayi lahir. Tetapi bagi orang percaya, apa yang biasa itu tidak biasa. Melalui kelahiran bayi yang tampak biasa-biasa saja itu, sebenarnya terjadi sesuatu yang secara radikal dan secara fundamental telah mengubah sejarah dunia dan seluruh umat manusia.

Kristus dalam Musik, Senirupa dan Sastra

Kristus memang tidak tertandingi oleh siapapun, Ia punya jumlah pengikut terbesar, Ia tidak pernah menulis buku, namun buku-buku tentang dirinya memenuhi perpustakaan dunia. Ia tidak pernah menulis tembang tetapi nyanyian dengan tema tentang dirinya jauh melebihi tema nyanyian apapun, bahkan Guido d’Arezza menemukan skala nada “ do re mi fa sol la si” dari penggalan kata-kata pujaan terhadap Yesus. Dari do tinggi, turun satu persatu nada lewat si, la, sol, fa, mi, re, dan do. Memang ada pertalian theologis yang hendak dicapai disana, maknanya: kedatangan Tuhan yang dari atas ke bawah, dari surga kedunia. Berangkat dari situ, dalam setiap kurun, para komponis menciptakan karya musik yang temanya sekitar Kasih Allah kepada manusia sehingga diturunkan-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa. Di zaman Abad tengah tampil nama-nama seperti Ambrosius, Gregorius dan Palestrina, pada zaman Barok-Rokoko tampil nama Bach dan Handel, kemudian Beethoven dan Mozart, semuanya menciptakan karya mengenai tokoh Yesus Kristus. Demikian pula senirupa, dari Michelengelo, Durer, Rembrandt, Delacroix, Salvador Dali sampai Grunewald, hampir semua pelukis besar, sudah melukiskan visi seninya tentang Yesus.

Begitu juga dikalangan sastra, ada nama-nama pengarang besar seperti: Dante, Erasmus, Kierkegaard, Dostoyevsky, TS Elliot dan masih banyak lagi. Itulah beberapa fakta yang membuat kelahiran Kristus begitu bermakna. Natal harus dipahami bukan hanya sekedar  ulang tahun Yesus, tatapi Natal adalah Firman yang turun ke dunia

Tarikh Masehi

Sekalipun kelahiran-Nya tidak dianggap istimewa karena hanya dibungkus dengan lampin dan terbaring didalam palungan

Namun peristiwa itu menjadi pusat kronologi sejarah.  Kita mengenal penanggalan umum yang dinamakan “Tarikh Masehi” atau dikalangan internasional disebut “tarikh Kristus”.

Sebelum tahun 0 (nol)  biasa disebut sebagai BC (Before Christ) atau SM (Sebelum Masehi), dan sesudah tahun  0 (nol) biasa disebut dengan nama AD (Anno Domini= Tahun Tuhan) atau kita sebut Masehi (M). Yang menarik dan perlu diperhatikan adalah tahun-tahun kelahiran para tokoh dunia, pemimpin spiritual, dan para nabi, selalu diukur dengan tahun Tuhan Yesus Kristus, “Masehi” atau “Sebelum Masehi,”  “Anno Domini”  atau “Before Christ” .

Jadi meskipun ada upaya untuk mencoba mengganti penyebutan AD dan BC ini dengan  ZB (Zaman Bersama, pengalihan dari “Common Era”) dan  SZB (Sebelum Zaman Bersama) , namun ZB dan SZB ini tidak populer, kurang dikenal luas. Dan juga walaupun Michael Hart dalam bukunya “100 TOKOH YANG PALING BERPENGARUH DALAM SEJARAH” tidak menempatkan Yesus Kristus di urutan pertama, namun kenyataan menunjukkan bahwa Yesus adalah pusat Kronologi Sejarah.

Adanya penyebutan AD dan BC, Tahun Tuhan dan Sebelum Kristus, rupanya bukanlah sekedar  kebetulan, tapi memang ada makna kebenaran sejarah dibaliknya, seperti yang dikatakan oleh Petrus, dalam Matius 16:16, bahwa Kristus itu Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s