SERAUT WAJAH JEMAAT DESA

MEMPERKENALKAN POS JEMAAT GKI JABAR INDRAMAYU YANG ADA DI LOSARANG

YOHANES ANG

P

ertumbuhan dan perkembangan suatu jemaat, tidaklah dapat dipisahkan dari lingkungan dimana didalamnya jemaat itu hadir. Dengan demikian maka pada awal tulisan ini akan disinggung sedikit perihal keadaan lingkungan yang ada disekitar dan mempengaruhi hidup serta perkembangan Pos Jemaat yang ada di Losarang.

Losarang adalah sebuah kota kecamatan yang terdiri atas 12 desa: Cemara, Muntur, Santing, Ranjeng, Losarang, Krimun, Puntang, Jangga, Jumbleng, Pangkalan, Rajaiyang dan Pegagan. Dengan luas wilayah lebih kurang 75 km2, serta jumlah penduduk sekitar 65.000 jiwa.

Jika kita menyelisik sejarah, sejak kapan permulaan “Injil” masuk ke Losarang, atau siapa orang Kristen yang pertama di Losarang maka hampir bisa dipastikan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya. Mencoba menelusuri sejarah menyangkut historiologi maupun historiografi adalah pekerjaan yang tidak mudah, satu usaha yang musykil untuk dilakukan. Karena peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu terlalu sulit dijangkau, apalagi jika tidak ada informasi yang jelas dan tidak ada arsip yang masih tersimpan.

Dan jika menggunakan tradisi lisan (penuturan nara sumber) yang kemudian menjadi persoalan ialah apakah yang mengemukakan tentang peristiwa-peristiwa itu bisa dijamin ke-shahih-annya, atau dengan kata lain apakah sumber itu benar-benar obyektif.

a.Periode Zending

Lembaga Pekabaran Injil NZV (Nederlandse Zendingsvereniging) mulai bekerja di Jawa Barat tahun 1863 M, NZV mengusahakan pelayanan kesehatan, pengobatan, pendidikan dan kegiatan lainnya.1)

Diperkirakan pada tahun 1910, atau mungkin beberapa tahun sebelumnya di desa Jangga Losarang dibuka sekolah Zending School (Sekolah Rakyat) 2) Tenaga pengajar yang ada pada saat itu, antara lain: Kho Im Liong, Wejalib dan Asmawi Tombo.

b.Periode Ramelan

Meskipun secara umum dapatlah dikatakan bahwa jemaat-jemaat yang lahir di Jawa Barat itu adalah hasil pekerjaan dari berbagai badan Pekabaran Injil luar negeri, seperti NZV misalnya, namun tidaklah semuanya demikian, sebab ada juga jemaat yang lahir secara alamiah berkat “Kesaksian” Pribadi-pribadi orang Kristen.

Dan sebagai contoh diantaranya adalah jemaat yang ada di Losarang. Walau demikian ini bukanlah lantas berarti bahwa usaha PI yang dilakukan oleh Zendeling tidak berbuah.

Adalah RAMELAN SISWOPURWOTO, satu nama yang penting untuk dicatat, ia lahir di desa Sanden-Klaten, Jawa Tengah tahun 1905  di desa kelahirannya ini Ramelan studi mendalami Alkitab, dan pada tahun 1927 dibaptis oleh Ds. FL.Bakker di jemaat Sanden-Klaten.

Setelah selesai dari Sekolah Jururawat di Purwakarta, pada tahun 1932 Tuhan mempertemukan Ramelan Siswopurwoto dengan Miryam Ashar dalam satu ikatan pernikahan, yang kemudian dikaruniai seorang putra dan empat putri.

Sehubungan dengan profesinya sebagai jururawat maka pada tahun 1933 beliau ditugaskan di rumah sakit Junti Kebon. Tahun 1942 pindah tugas ke Haurgeulis, baru kemudian pada tahun 1944 bertugas sebagai “Mantri Klinik” (Pelayan Kesehatan) di Poliklinik (sebutan untuk Puskesmas pada masa itu) Losarang.

Ditempat tugas yang baru inilah Ramelan merasa tergerak hatinya untuk membentuk suatu persekutuan, yang diwujudkannya dengan mengadakan kebaktian keluarga dirumahnya sendiri, jalan raya Puntang no.64 Losarang. Supaya kebaktian ini dapat berlangsung secara teratur dan bertanggung-jawab, maka beliau meminta supaya GKI Jabar Indramayu sebagai jemaat induknya.

Permintaan ini disambut baik oleh Majelis Jemaat ketika itu, dan pada tanggal 27 April 1963 secara resmi terbentuklah Pos P.I. (Pekhabaran Injil) Losarang, dengan susunan pengurus: Ramelan.S, sebagai Ketua, Tanoto (Tan How Lok) sebagai Sekretaris dan Kwa Ek Kiong sebagai bendahara.

Dalam kurun waktu tiga tahun (1963-1966) hanya sekitar 7 sampai 8 orang saja yang hadir dalam kebaktian, baru diawal tahun 1967 rata-rata dalam setiap kebaktian diikuti oleh sekitar 30 orang, dan jumlah ini terus bertambah sehingga rumah yang digunakan untuk kebaktian tidak lagi dapat menampungnya.

Mengingat akan kebutuhan adanya tempat kebaktian yang lebih besar dan lebih luas, maka pada tanggal 28 Maret 1968 dibentuklah panitia pembangunan gedung gereja.

Walaupun panitia pembangunan sudah memperoleh sebidang tanah seluas 500 m2 ditepi jalan raya jalur pantura desa Krimun, namun sampai hampir lebih dari 5 tahun pembangunan gedung gereja masih belum dapat segera dikerjakan, ini disebabkan karena pada saat itu dana yang tersedia masih belum mencukupi, dan diatas tanah kosong tersebut masih dipakai sebagai bengkel oleh Unit Eksalbes Losarang (Proyek upgrading jalan raya antar propinsi di Losarang waktu itu).3)

c. Periode 70-an

Tahun 1978 adalah merupakan tahun anugerah Tuhan bagi warga jemaat Pos P.I. Losarang, ditahun ini satu tempat ibadah yang cukup permanen bisa didirikan, berkat dukungan dana dari jemaat induk GKI Indramayu dan para donatur, dan pada tanggal 19 oktober 1978 diresmikan sebagai gedung Pos P.I. Losarang dalam sebuah kebaktian pengucapan syukur oleh Pdt.Titus Yansaputra. Apa yang menjadi kerinduan dari Ramelan Siswopurwoto terwujud sudah, sekalipun beliau sendiri tidak sempat menyaksikan karena Tuhan telah memanggilnya pulang 9 oktober1975, pada usia 70 tahun.

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kegiatan selama tahun pelayanan 1970 sampai 1979 tidaklah mudah, karena saat itu administrasi jemaat kurang mendapat perhatian, banyak catatan-catatan penting yang rusak atau hilang sehingga sulit untuk bisa mengetahui keadaan/kegiatan pelayanan dalam kurun waktu tersebut.

Hanya ada beberapa hal penting yang masih bisa ditemukan datanya dalam tahun pelayanan 1970 sampai 1979, antara lain:

Statistik anggota jemaat per-desember 1975: 16 orang BD (Baptis Dewasa), 7 pria + 9 wanita.

Statistik anggota jemaat per-desember 1979: 19 ORANG BD (10 pria + 9 wanita)  dan 10 anggota BA (Baptis Anak).

Seperti pada periode sebelumnya (tahun 60-an) pada kurun waktu 70-an ini pelayanan di Pos P.I. Losarang selain dilayani oleh Pdt.Titus Yansaputra sekali dalam sebulan, selebihnya melibatkan juga pelayan Firman non-pengerja untuk turut ambil bagian, diantaranya adalah: Ramelan, Farida.S, Rachman Setyono, Haryono dan Str.Pramono.

d. Periode 80-an.

Pertumbuhan serta perkembangan kehidupan jemaat Pos P.I.Losarang dalam periode 80-an penuh dengan catatan-catatan yang cukup menggembirakan. Jumlah anggota jemaat per-juli 1983 tercatat 53 orang, seperti yang dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

Statistik anggota jemaat

Dewasa                anak                   Jumlah

Pria-Wanita(BD)   Pria -WanitaBA)

Keadaan tahun 1980                               10     9                   5    5                          29

Penambahan

Baptis/P.Percaya                                        8     3                   3    1                          15

Atestasi masuk                                             4     5                   4    4                          17

———————————————————

22    17                 12   10                       61

Pengurangan

Pindah                                                                2     2                    2    2                            8

Meninggal                                                           –      –                    –     –                            –

——————————————————————

Keadaan per-Juli 1983                                 20    15                10   8                                                                               ———-                ——–

Keadaan per-Juli 1983                                       35                          18                           53

Kebaktian Rumah Tangga

Pada dekade 80-an ini KRT berjalan secara rutin setiap hari rabu malam, pukul 19.00 wib, dengan mengambil tempat dirumah anggota jemaat yang memintanya (dari rumah kerumah), KRT ini dilayani oleh Pdt. Suripto Christoferus, Pengurus Pos P.I. Losarang (Tirta Hadirat Yunus, Medinah Ramelan, Purnawan Wijaya dan penulis), juga terkadang dibantu oleh siswi SPWK (Sekolah Pengerja Wanita Kristen) Magelang yang sedang menjalankan tugas praktek (sekitar 3 bulan), seperti: Tambar Tarigan (th 1983), Ezrawati Manik (th 1984), Suparmi HS (th 1985) dan Ester Surani (th 1986). Anggota jemaat yang hadir dalam KRT yang diharapkan dapat meningkatkan persekutuan sambil bersatu dalam Firman dan doa ini lebih kurang sekitar 25 orang, dan bagi “domba-domba lain” yang masih malu dan segan untuk langsung datang kegereja, biasanya mereka mau menghadiri KRT yang diadakan dirumah tetangga atau kerabatnya ini. Dan dengan demikian maka berkat serta keselamatan dari Tuhan boleh juga tersalur kepada mereka.

Sekolah Minggu

Sejak tahun 1976 sampai 1983 pelayanan Sekolah Minggu cukup memprihatinkan, setidaknya jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, semasa masih ada Ramelan Siswopurwoto. Namun demikian, sekalipun jumlah anak-anak SM yang hadir hanya sekitar 7 sampai 8 anak saja tetapi tetap dengan setia dilayani oleh Medinah Ramelan sebagai guru SM pada saat itu. Adapun yang menjadi penyebab kemunduran SM ini adalah : 1. Banyak Anak-anak SM yang “Hijrah” karena adanya usaha yang kurang terpuji dari denominasi lain yang “mengail  di aquarium orang”

2. Pelayanan SM kurang mendapat perhatian yang cukup serius. Menyikapi hal tersebut, Pengurus Pos PI Losarang terus berupaya  agar dapat mengembalikan ASM yang menyeberang itu walaupun hasilnya belumlah seperti apa yang diharapkan.4)

PAK  (Pendidikan Agama Kristen)

Pada pertengahan tahun 1984, penulis melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah negeri yang ada di Losarang untuk meminta data siswa-siswi yang beragama Kristen di sekolah-sekolah tersebut. Dan dari pihak sekolah (1.SMAN, 1.SMPN, 1.SMP Swasta dan 9 SD Negeri) memberikan respons positif atas permintaan itu.

Kemudian pada tanggal 25 Juli 1984 penulis mendapat surat tugas mengajar sebagai GATT (Guru Agama Tidak Tetap) yang dikeluarkan oleh Pembimbing Masyarakat (Kristen) Protestan Kanwil DEPARTEMEN AGAMA Prpinsi Jawa Barat. Karena siswa yang beragama Kristen di tiap-tiap kelas pada beberapa sekolah itu jumlahnya kurang dari 10 orang, maka PAK belum bisa dilaksanakan disekolah.5 ) Ada 43 murid SDN, 24 SMP dan 8 siswa-siswi SMAN yang sejak saat itu mengikuti PAK di gedung gereja Pos PI Losarang.  Dengan diadakannya PAK ini maka Sekolah Minggu yang dalam beberapa tahun sebelumnya sempat mengalami kelesuan kelihatan sudah  mulai dapat berjalan kembali, karena siswa-siswi yang mengikuti PAK sebagian besar (usia SD) mengikuti juga SM, dan yang remaja ( SMP serta SMA ) ikut aktif pula dalam berbagai kegiatan lainnya, seperti vocal group dan menghadiri KRT. Jumlah anak-anak SM yang hadir cukup menggembirakan, keberhasilan  “menarik” kembali ASM ini disambut baik oleh Pengurus Pos PI Losarang dengan peningkatan pelayanan SM yang lebih intensif, serta adanya dukungan dana setiap bulan untuk SM dari gereja induk di Indramayu.

e. Periode 90-an (Perubahan nama dari Pos P.I. menjadi Pos KPK)

Sekalipun William Shakespeare  pernah mengatakan: what’s in a name?, tetapi nama sesungguhnya mempunyai makna bagi penyandangnya, karena menunjuk pada jati diri, atau paling tidak ciri-cirinya. Dalam kaitannya dengan hal ini, perubahan nama “Pos Jemaat” mempunyai makna penting pula, karena dengan begitu Pos Jemaat menyatakan jatidirinya yang baru atau setidak-tidaknya ciri-ciri yang baru. Hal itu berlaku bagi perubahan nama “Pos Pekhabaran Injil” yang kemudian menjadi “Pos Kebaktian Pelayanan dan Kesaksian (KPK)”.  Alasan perubahan nama dari Pos PI menjadi Pos KPK tidaklah mudah untuk dijelaskan, karena memang tidak ada literatur yang dapat dipakai sebagai rujukan yang mencatat hal itu. Kecuali hanya dalam “Tata Laksana Bakal Jemaat dan Jemaat Baru” GKI Jabar yang disahkan oleh PMS ke-43 tahun 1985, yang menyebutkan :”Pos Kebaktian Pelayanan dan Kesaksian (KPK),” dalam pasal 2. Barangkali yang menjadi dasar pertimbangan perubahan nama itu adalah karena kalau dulu pada masa Zending sampai dengan tahun 70-an, ada semangat yang begitu besar untuk “mencari jiwa” (PI), sedangkan sejak periode 80-an sampai sekarang, dengan tanpa mengurangi semangat PI tapi perlu pula disertai dengan mewujudkan Persekutuan dan Pelayanan, sesuai dengan harkat dan tugas panggilan gereja.

Gedung Baru Pos KPK Losarang

Sehubungan dengan gedung ibadah yang dibangun tahun 1978 hanya berjarak beberapa meter dari jalan raya yang tidak pernah sepi dari kepadatan arus lalu-lintas jalur Pantura, jalur yang dilewati oleh kendaraan dari arah Jakarta – Cirebon- Jawa Tengah  dan sebaliknya, maka polusi asap knalpot serta kebisingan deru suara kendaraan yang lewat terasa cukup mengganggu ke-khusyukan ibadah kebaktian. Berkenaan dengan hal itu maka Majelis Jemaat dan Komisi (pengurus) Pos KPK Losarang merencanakan pemindahan gedung kebaktian dengan membangun gedung baru dibelakang gedung yang lama. Awal tahun 1994 pembangunan gedung baru mulai dikerjakan, dan pada tanggal 15 Desenber 1994 dilangsungkan Kebaktian Syukur peresmian gedung baru Pos KPK Losarang, dipimpin oleh Pdt.Ronny Nathanael. Kebaktian Syukur peresmian gedung ini juga dimeriahkan dengan lantunan tembang pujian dari jemaat Pos KPK Losarang dalam bentuk kesenian tradisional yang disebut oleh majalah Kairos edisi Februari 1995: “Tarling rohani”.6) Barangkali tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa dikalangan gereja-gereja Pantura (Indramayu-Cirebon) hanya Jemaat GKI Indramayu yang ada di Losarang ini yang pertamakali mencoba mengangkat kesenian daerah”tarling” masuk kedalam pelayanan gereja.

Sebab bagaimanapun juga dengan menaruh perhatian terhadap nilai-nilai budaya setempat itu sama artinya dengan ikut melestarikan budaya bangsa, turut memperkaya kontekstualisasi lagu-lagu gereja, dan yang lebih penting adalah bahwa Tarling dapat merupakan sarana paling efektif untuk memashyurkan nama Tuhan. Suatu kepedulian terhadap akar budaya yang sangat positif dan perlu dikembangkan, demikian menurut Pdt.Ferdy Suleeman, Ketua Sinode GKI Wilayah Jabar saat itu, dalam percakapan dengan penulis setelah beliau menyaksikan pagelaran Tarling KPK Losarang, di Jemaat GKI Pamanukan 6 Pebruari 1995.

Tarling

Masyarakat Indramayu atau Cirebon pasti mengenal “Tarling”, karena merupakan salah satu kesenian tradisional yang banyak digemari. Tetapi bagi masyarakat diluar  daerah itu yang belum pernah melihat sosok asli Tarling tentu akan mengatakan bahwa itu tak lebih tak kurang dari music dangdut yang liriknya berbahasa Indramayu atau Cirebon seperti yang sering ditayangkan lewat  layar TV, padahal tarling itu sendiri bukan dangdut.

Musik tradisional tarling selain memakai tangga nada heptatonik (tangga 7 nada) sebagaimana yang biasa kita temukan dalam musik pop atau dangdut, juga mempergunakan tangga nada pentatonik (tangga 5 nada), seperti dalam lagu-lagu: Kiser, Bendrong, Waledan, Dermayon, Jonggrang, Kranginan dan seterusnya.

Berdasarkan etimologinya, tarling adalah (gi)-tar   (su)-ling, dan dalam perkembangannya sekarang dilengkapi pula dengan sejumlah instrumen lain seperti: kendang, gong, kecrek, saron, tutukan, gender, kempul bahkan sampai alat musik elektronik seperti  : bass guitar dan keyboard.

Adalah Dr. Liberty Manik, dalam majalah Berita Oikoumene, april 1984 mengatakan bahwa: untuk memanfaatkan lagu-lagu tradisional dalam usaha pempribumian lagu-lagu gerejawi di Indonesia, maka suatu melodi tradisional bila memenuhi syarat dapat diangkat menjadi lagu gerejawi dengan teks rohani pada melodi tersebut.

Upaya memanfaatkan lagu-lagu tradisional dalam usaha pempribumian lagu-lagu gerejawi, memang sudah diawali oleh gereja Calvinis pada zaman reformasi dimana Maitre Pierre dan Louis Bourgeois telah mengadaptasi sejumlah besar lagu rakyat yang populer masa itu ke dalam gereja.

Dan saat inipun sudah banyak gereja-gereja yang mencoba mengangkat kesenian daerahnya untuk lagu-lagu gerejawi, dalam rangka kontekstualisasi lagu-lagu gereja.

Namun sangatlah disayangkan, jika dikalangan gereja-gereja di sepanjang jalur pantai utara (pantura), dari Pamanukan sampai Cirebon – Sindanglaut, nampaknya sampai saat ini masih belum ada usaha untuk mengangkat unsur kesenian daerah dalam kehidupan pelayanan gereja, sikap gereja yang ada di daerah ini terhadap kesenian daerahnya (dimana gereja itu hadir dan melayani) agak pasif. Barangkali ada gereja yang mempunyai keinginan ke arah itu, tetapi tidak memiliki orang atau sarana yang dapat mengembangkan serta mewujudkannya, karena memang tidaklah mudah untuk memainkan alat musik tradisional seperti : gitar, suling, kendang, gong dan seterusnya.

Juga tidaklah gampang menyanyikan lagu tarling laras pelog yang swarantaranya didekatkan kepada skala diatonik, yang sarat dengan singgul, cengkok, seloka dan wangsalan (istilah-istilah khas  dalam musik tarling), plus warna suara vocal yang kental dengan dialek daerah.

f. Periode Pra  &  Pasca tahun 2000

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sejak pertengahan tahun 90-an terlihat ada perkembangan diberbagai sektor kehidupan masyarakat Losarang yang ditandai dengan  bermunculannya beberapa jenis usaha baru seperti pabrik keramik, tambak udang, toko dan lainnya, yang sekaligus juga mengundang pendatang dari luar daerah dan diantaranya ada yang beragama Kristen.  Sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan tersebut, maka untuk dapat lebih mengoptimalkan pelayanan Pos KPK Losarang, dirasa perlu adanya tenaga khusus yang melakukan tugas pelayanan gerejawi  (mengajar Sekolah Minggu dan pemeliharaan pertumbuhan iman jemaat), yang menempati konsistori gereja.

Awal Januari 1995, Wahyu Budiono lulusan STAK (Sekolah Tinggi Agama Kristen) Surakarta mulai bertugas di Pos KPK Losarang sebagai guru PAK dan melaksanakan tugas pelayanan gerejawi. Sebelumnya (tahun 1993-1994) tugas tersebut diisi oleh Rikel Tiwan yang juga lulusan STAK . Setelah lebih dari 30 tahun terbentuknya Pos Jemaat di Losarang (pos PI diresmikan tahun 1967) baru pada tahun 1995 mempunyai tenaga pelayanan yang menetap di Losarang.

Arena Bermain Anak-Anak Sekolah Minggu

Menyadari bahwa anak SM adalah generasi penerus gereja, maka dengan penuh perhatian Pengurus Pos KPK Losarang terus berusaha untuk membenahi serta meningkatkan pelayanan SM ini. Walaupun SM adalah juga sarana kebaktian yang bertujuan menumbuhkan iman dan rohani anak sedini mungkin, supaya anak-anak sejak kecil sudah dapat mendengar Firman, berdoa dan memuji Tuhan, namun agar dapat lebih memikat anak-anak supaya mau mengikuti SM rasanya tidaklah cukup hanya dengan mengimbau agar orang tua dapat mendorong anak-anaknya dan memberikan variasi cara mengajar saja, mengingat bahwa pada hari minggu pagi (jam-jam SM) banyak film serta acara menarik yang ditayangkan stasiun televisi.

Dengan pertimbangan untuk meningkatkan jumlah anak yang datang mengikuti SM, dan juga sekaligus memanfaatkan lahan kosong yang ada dibelakang gedung gereja, maka Pengurus Pos KPK merencanakan pembuatan tempat bermain untuk anak-anak SM, karena dunia anak-anak memang dunia bermain dan anak-anak identik dengan bermain.  Pembuatan tempat bermain ini dikerjakan secara bertahap, menghabiskan dana Rp.13.000.000- yang diperoleh dari swadaya jemaat Pos KPK Losarang serta sumbangan dari beberapa donatur yang ada di Indramayu dan Jakarta. Awal Maret 2001 pembuatan tempat bermain untuk ASM dapat diselesaikan, dan sejak bulan April 2001 sudah mulai dipakai untuk kegiatan SM yang sebelumnya diadakan di gedung gereja.  Pengurus Pos KPK Losarang masih terus mengupayakan agar tempat bermain tersebut dapat dilengkapi dengan alat-alat permainan seperti: prosotan, jungkat-jungkit, ayunan dan lainnya yang ternyata memerlukan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Untuk itu Pengurus Pos KPK Losarang sangat mengharapkan adanya dukungan dana dari jemaat yang peduli akan pelayanan SM di Pos Jemaat GKI Indramayu yang ada di Losarang.

Tabulasi data dari buku induk keanggotaan jemaat Pos KPK Losarang per-September 2001:

Status                 Laki-laki       Perempuan      Jumlah

Baptis Anak                18                14                  32

Baptis Dewasa/PP   30                59                  89

Jumlah                          48                73                121

Sedangkan komposisi variasi etnis anggota jemaat adalah sbb:

Etnis            Baptis Anak     Baptis Dewasa   Jumlah

Tionghoa           12                       43                55

Jawa                      5                       32                37

Batak                    15                       14                29

Tidak jelas         –                        –                  –

Jumlah               32                       89               121

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa sejarah pertumbuhan dan perkembangan Pos Jemaat GKI Jabar Indramayu yang ada di Losarang ini memang cukup panjang, dan rasanya tidaklah mungkin untuk bisa dituliskan semuanya disini, sebab apa yang ditulis masih belum selengkap seperti yang diharapkan, banyak bagian yang samar dan kurang jelas, adapula bagian peristiwa-peristiwa penting yang terpaksa lolos atau diungkapkan tidak cukup menyeluruh.

Dan barangkali juga banyak orang yang terlibat serta ikut ambil bagian memberi sumbangsih yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan pos Jemaat di Losarang, namun jika saja nama mereka tidak tercantum disini, itu sama sekali tidak berarti bahwa nama-nama itu dianggap kurang penting, tetapi hanya karena keterbatasan yang tentunya tidaklah dapat mencatat  dan menyebut semua nama.

Didalam usaha menggambarkan potret kehidupan Pos Jemaat Losarang sudah tentu penulis tidak bermaksud memberikan lukisan sempurna, yang dapat dilakukan hanyalah sekedar menampilkan raut-raut tertentu untuk mempertajam gambaran konteks dimana Pos Jemaat hidup dan terpanggil untuk melayani. Kurun waktu yang hampir 40 tahun memang merupakan sebuah perjalanan panjang, dan tentu saja menghadirkan banyak peristiwa serta berbagai pengalaman pelayanan yang cukup berharga. Terkadang terasa sangat melelahkan karena harus mendaki jalan yang menanjak tinggi dan tiba-tiba harus pula menuruni jalan sangat curam, membuat langkah menjadi lamban bahkan sering terjadi hanya jalan ditempat. Untuk mencapai tujuan memang tidak bisa dilakukan dengan cara memanjat sambil meloncat, tapi setapak demi setapak,  yang jelas Pos KPK Losarang bertumbuh terus dan terus, keberadaan, kehadiran dan perkembangannya dari tahun ke tahun tetap terasa.

Perjalanan panjang telah ditempuh, segala suka duka telah dilalui dan kini dengan berbekal pengalaman-pengalaman pelayanan masa silam pos KPK Losarang menatap masa depan, menyiapkan hari esok, menyongsong peningkatan status dari pos KPK menjadi Bakal Jemaat tahun 2002 mendatang.

CATATAN-CATATAN

1. Mulai bulan Juni 1864  sampai dengan maret 1940 pelayananan di jemaat Indramayu sebagian besar dilakukan bergantian oleh para pendeta dari NZV (Perhimpunan Zending Belanda). Lebih jauh tentang hal ini, lihat, Ronny Nathanael, “pandangan terhadap materi dikalangan orang Kristen berlatar-belakang etnis Cina”, tesis untuk mencapai gelar Magister Theologiae, Universitas Kristen Duta Wacana , Yogyakarta, 1996, hal.35-44.

2.  Prof. Dr. Priguna Sidharta, “Seorang dokter dari Losarang” (Sebuah otobiografi Priguna Sidharta), Jakarta, Temprint, 1993, hal.11-12, mengatakan bahwa: “Ayah masuk Sekolah  Rakyat yang dulu dikenal sebagai  sekolah kelas dua. Setelah kelas 3 ayah pindah kesekolah Belanda partikelir. Gurunya seorang Belanda-Indo, murid-muridnya adalah anak-anak keturunan Cina dari desa-desa sekitar Losarang”.

Merujuk pada otobiografi yang ditulis Dr.Sidharta tersebut, maka penulis dapat memperkirakan bahwa Sekolah Zending yang ada di Losarang berdiri sekitar tahun 1910 atau malah sebelumnya, mengingat Sie Hway An (ayah dari Dr.Sidharta) lahir pada tahun 1901.

3. Yohanes Ang, “pertumbuhan dan Perkembangan Pos Pekabaran Injil Losarang”, 1983  (Sebuah catatan populer 40 halaman,  yang merupakan sumbangan tulisan untuk buku Peringatan 125 tahun Gki Jabar Indramayu), hal.10-12.

4. Ibid, hal. 16-21.

5. Lihat, Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Agama Republik Indonesia, Nomor 0198/U/1985 dan Nomor 35 tahun 1985 Bab II, Pasal 4.

6. Kairos, No.26 Th III, Pebruari 1995, hal.30. Lihat juga “Media Komunikasi”  GKI Jabar Klasis Jakarta Timur, No.4, Tahun I, desember 1995.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s