Sejarah Gereja GKI INDRAMAYU

(draft buku, belum diterbitkan)

Bagian 1                                Yohanes Ang

PENDAHULUAN

Darma Ayu – Dermajoe

Mimiti ngawit carita, nalika jaman semana.                                                             Dermajoe abad 19 ketika bumi Nusantara ini masih bernama Nederlands Indie, Hindia Belanda.

Konon menurut sejarahnya, semula Indramayu adalah sebuah pelabuhan yang  bernama Cimanuk, sesuai dengan nama sungai yang bermuara di kota ini.1 dan kemudian oleh Wiralodra sang pendiri Dermayu, nama Cimanuk diganti menjadi DARMA AYU yang berasal dari nama Endang Darma (istri Wiralodra) atau juga disebut Nyi Darma Ayu.

Perubahan bentuk kata Darma Ayu menjadi Indramayu terjadi karena proses peluluhan suku kata untuk kata majemuk dalam bahasa Jawa. Jika suku akhir dari kata pertama terdiri dari vokal yang sama dengan suku awal dari kata kedua maka secara lisan dibaca menjadi kesatuan, misalnya seperti Mulya Ana dibaca Mulyana, Mulya Adi dibaca menjadi Mulyadi, demikian juga dengan kata Darma-Ayu dibaca menjadi Darmayu atau Dermayu (vocal a diucapkan e, sama seperti kancana menjadi kencana, nagara menjadi Negara).

Sedangkan awalan “in” bisa dipastikan berasal dari penyebutan dalam bahasa Belanda untuk menunjuk keberadaan di Dermayu, yaitu dengan menambah kata depan “in” sehingga menjadi Indermayu, dan akhirnya bergeser lagi menjadi Indramayu. Adapun dalam bahasa lisan percakapan sehari-hari orang masih selalu menyebut “Dermayu”2 , dan sampai sekarang masih ada desa di kecamatan Sindang yang bernama “Dermayu”, mungkin disitulah lokasi kota Indramayu yang pertama.

Bahasa Hok-Kian dalam lafaz Dermayu

Sebagai kota pantai dengan pelabuhan Cimanuk yang ramai pada jamannya Indramayu adalah salah satu mata rantai jaringan lalu-lintas maritim  yang penting di pantai utara Jawa Barat, maka wajarlah jika kota ini banyak dikunjungi oleh para pedagang dari manca negara, termasuk dari dua propinsi di daratan Tiongkok  Fukien dan Kwantung.

Fukien (Fujian) daerah di selatan Cina berseberangan dengan Taiwan, yang merupakan tempat asal dari sebagian besar orang Tionghoa di Indonesia.3 Bahasa daerahnya, Hok Kian, merupakan bahasa yang paling banyak mempengaruhi kosakata bahasa Indonesia, dan melintas masuk juga dalam bahasa “Dermayu’ mulai dari bakmi, bakpao, cawan, kecap, koyok, loteng, lonceng, teko (alat untuk memasak air),  anglo (perapian dengan arang sebagai bahan bakarnya), pacul (cangkul), sosi (kunci), pangkeng (kamar tidur), langseng (alat untuk menanak nasi), wuluku (alat untuk membajak di sawah), bangseng (bau tak sedap/anyir), dacin (alat penimbang), galeng (pematang) dan seterusnya.4

Separuh Tionghoa

Sulit untuk dapat mengetahui secara pasti tentang kapan kelompok etnis Tionghoa mulai bermukim di Indramayu, namun paling tidak sekitar pertengahan abad 17, ini berdasarkan catatan dalam Sejarah Indramayu yang menyebutkan bahwa pada tahun 1678 ada seorang Tionghoa menantu dari Wangsa Perdana menjadi syahbandar, pejabat yang mengawasi lalu-lintas perdagangan yang keluar masuk pelabuhan Cimanuk.5

Secara sederhana dapat dikatakan, orang Tionghoa meninggalkan tempat asalnya dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama terjadi dalam kurun waktu sebelum abad 17 sampai dengan sekitar pertengahan abad 19, dan gelombang ke-dua terjadi pada akhir abad 19 sampai awal abad 20.6

Mereka yang pergi merantau dalam periode pertama kebanyakan tidak bisa baca-tulis, umumnya petani miskin dan kuli-kuli yang bertudung lebar serta berkepang panjang.

Para pendatang Tionghoa gelombang pertama itu hanya terdiri atas kaum pria, karena waktu itu harus taat pada peraturan Manchu yang telah diterima sebagai tradisi : perempuan Tionghoa tidak boleh ikut merantau (meninggalkan rumah), dan harus mengecilkan kakinya dengan memakai sepatu besi sejak usia anak.7

Oleh sebab itu kemudian kaum pria imigran Tionghoa ini menikahi perempuan setempat, perempuan pribumi yang menikah dengan pria Tionghoa ini biasanya disebut ca-bau-kan (ejaan lamanya: tja-bow-kan), dalam bahasa Hok-Kian sebetulnya arti “ca-bau-kan” tak lebih hanya “perempuan” demikian menurut De geschiedenis van Batavia tot 1890, geschrijven door een Chinees.8

Meski separuh Tionghoa, namun keturunan dari pernikahan campur antara pria Tionghoa dengan perempuan penduduk setempat ini, masih disebut dan menyebut dirinya “orang Tionghoa” karena tradisi system kekerabatan mereka adalah patrilineal, yaitu mengikuti garis leluhur pria (she).9 Beberapa generasi kemudian terbentuklah yang disebut”Kaum Tionghoa Peranakan” atau Kiau Seng, terutama di pulau Jawa. Dan dalam hal berpakaian, yang lelaki biasanya memakai theng-sha ( baju panjang khas Tionghoa), yang perempuan memakai kebaya seperti ibunya.

Kaum Tionghoa Kiau Seng ini, kebudayaannya tidak sepenuhnya berciri setempat seperti kelompok etnik ibunya, dan tidak juga sepenuhnya Tionghoa.10 Orang Tionghoa peranakan terlalu Tionghoa untuk menjadi orang Indonesia, dan terlalu Indonesia untuk menjadi orang Tionghoa.

Karena sejak lahir anak-anak umumnya lebih dekat kepada ibunya, yaitu perempuan setempat, maka tidak heran kalau keturunan pernikahan campur itu menggunakan bahasa ibunya. Mereka tidak menguasai bahasa Cina baik lisan maupun tulisan, tetapi berkomunikasi dengan menggunakan bahasa setempat, atau perpaduan antara bahasa melayu pasar dan logat Hokkian.11 Kecuali hanya beberapa istilah yang sering digunakan sehari-hari oleh ayah mereka, seperti istilah kekerabatan: taci (mbak), engkoh (kakak laki-laki), encek (paman), encim (bibi), engku (paman/ adik dari ibu), engkim (istri engku), tuape (uwak/kakak dari ayah), tua’em (istri tuape), cinkeh (besan lelaki), ce’em (besan perempuan), toaku, toakim, cekong, cimpo, dan sapaan kekeluargaan lainnya.

Selain istilah kekerabatan ada juga istilah sumpah serapah atau makian, istilah keagamaan dan istilah perdagangan atau istilah-istilah untuk nilai nominal uang, misalnya: pun-tua (malas), kwe-tau (kurang ajar), kam-sia (terima kasih), bo-ceng-li, se-ji, si-pun, gopek, goceng, goban, gopekceng, gotiau dan seterusnya.

Kiau-Seng dan Hoa-Kiau

Berbeda dengan perantau gelombang pertama (Tionghoa peranakan/Kiu Seng), imigran yang datang belakangan (akhir abad 19 sampai dengan pertengahan abad 20) membawa serta istri dan anak-anaknya, kelompok ini dikenal sebagai  kaum Tionghoa totok atau Hoa Kiau.12Antara Tionghoa Kiau Seng (ch’iao-sheng) dengan Hoa Kiau (hua-ch’iao) ada kesamaan yang terbedakan, dan ada  perbedaan yang tersamakan.13

Kaum imigran Tionghoa baik Kiau Seng maupun Hoa Kiau datang ke bumi Nusantara ini didorong oleh keinginan dan bakat mereka untuk Cuo Sen Ie, (bahasa Hok kian: sengli) yang berarti dagang,14 dengan membawa serta tradisi keagamaan yang khas Tionghoa: Sam Kauw It Kauw, Han San Wei Yi,15 penyembahan leluhur beserta tradisi dan nilai-nilainya dipadukan dengan Konfusianisme, Budhis dan Taois, yang menekankan aspek manusia dari sudut susila, hidup teratur dan tertib, merdeka dari segala penderitaan, pranata ekonomi sebagai suatu kewajiban, dan seterusnya.

Istiadat dan kepercayaan leluhur tak gampang putus dalam roh dan jiwa setiap Tionghoa, karena telah mendarahdaging sebagai pegangan yang kukuh. Tidak satupun wamsa tua di dunia yang masih  terpelihara kebudayaan waris leluhur, selain Tionghoa. Kebudayaan tua wamsa-wamsa Mesir, Persia, India, Yunani, dan Inka telah lama punah oleh risiko akulturasi, tapi tidak pada turunan Tionghoa. Keteguhan ini erat pertaliannya dengan patok “Zu Xian Jiao” (Sinkretisme Budha, Taoisme, dan Kong Hu Cu, disebut sebagai agama rakyat)  yang telah mendarah daging sebagai pegangan, terutama bagian kata-kata bijak dari Kong Hu Cu, “Jing tian zun zu,” (mengagungkan langit dan menghormati leluhur) tentang kewajiban setiap anak Tionghoa menyembahyangi nenekmoyang, leluhur, atau orangtua, supaya sentosa di akhirat.16

Tahun 1854 Pemerintah kolonial dibawah Van Twist mengeluarkan  Regeringsreglement yang membagi penduduk Hindia Belanda dalam tiga golongan mirip kasta dan dengannya bernuansa sara, yaitu : de Europeanen, kemudian de vreemde oosterlingen yang antara-lain Tionghoa, dan de inlanders. Dalam tiga pembagian kelas kewarganegaraan yang diterapkan

pemerintah Hidia Belanda, etnis Tionghoa menduduki peringkat kedua. Peringkat teratas adalah orang-orang Eropa, terutama Belanda. Peringkat kedua adalah golongan Timur Asing (vreemde oosterlingen).Sementara peringkat ketiga adalah golongan pribumi (inlanders).17

Menurut sistem itu, setiap golongan harus mempertahankan cara berpakaian dan adat istiadatnya. Yang Eropa memakai pakaian Eropa, yang Tionghoa mengenakan pakaian Tionghoa, yang pribumi memakai pakaian adat lokal.

Bersamaan dengan itu, sampai akhir abad 19 orang Tionghoa di Hindia Belanda dilarang memakai pakaian model Eropa, seperti jas dan celana pantaloon.18 Cara berpakaian laki-laki Tionghoa waktu itu adalah memakai baju twikim atau baju yang tanpa krag, kancingnya dari peniti dengan dua kantong tempel dibawah pinggang dan celana komprang serta model potongan rambut taucang atau kuncir. Kemudian pada tahun 1905 orang Tionghoa status hukumnya dipersamakan (GELIJKGESTELD) dan baru mendapat kebebasan untuk  berpakaian.

Tahun 1917 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan undang-undang yang memungkinkan orang Tionghoa mengajukan permohonan untuk memperoleh persamaan status dengan golongan Eropa (gelijkstelling). Syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan status Eropa tersebut antara lain fasih berbahasa Belanda, mempunyai kekayaan yang cukup dan harus mengikuti wajib militer. Disamping itu pemohon harus menyatakan secara tertulis di atas kertas dengan meterai yang besarnya F. 1,50 bahwa ia merasa tidak cocok lagi hidup di kalangan masyarakat Tionghoa.  Sudah tentu tidak banyak orang Tionghoa yang mampu dan mau melakukan hal itu. Orang yang statusnya telah disamakan dengan golongan Eropa

Tersebut sering menjadi bahan ejekan dengan sebutan “Belanda toen-phoa (Belanda serupiah

Setengah), sesuai dengan besarnya nilai meterai pada surat permohonan.19

Perlakuan Belanda terhadap etnis Tionghoa pada waktu itu berstandar ganda: di satu sisi mereka diberi fasilitas yang memudahkan berbisnis dan banyak hak monopoli, tetapi di pihak lain status sosial mereka dipertahankan pada tingkat necessary evil, satu kambing hitam yang diperlukan sebagai saluran bagi ledakan-ledakan kemarahan rakyat atas penindasan ekonomi-politik.20

Tetapi previlase itu disertai pembatasan dan pemaksaan untuk membentuk gettho-gettho, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan yang disebut wijkenstelsel pada tahun 1835 yang mengharuskan orang-orang Tionghoa bermukim di tempat yang sudah ditentukan, berupa pecinan yang diawasi oleh wijkmeester (loh-tia). Peraturannya berbunyi :”Orang Timur Asing yang penduduk Hindia Belanda, sedapat mungkin dikumpulkan di daerah-daerah terpisah dibawah pimpinan kepala mereka masing-masing.” Pada tahun 1866 peraturan tersebut diubah. Pejabat setempat diberikan kekuasaan untuk tidak melaksanakan peraturan tersebut jika mereka merasa tidak perlu. Namun pada akhir abad ke-19, Gubernur Jenderal memberikan instruksi bahwa system pemukiman harus dijalankan secara ketat. Orang yang melanggar peraturan ini akan dikenakan denda berat. Walaupun peraturan ini dihapus pada tahun 1920-an namun  mempunyai dampak jangka panjang untuk “keterpisahan”(separateness) orang Tionghoa dari pribumi.

Untuk dapat bepergian keluar dari daerah pecinan mereka harus meminta ijin/surat jalan khusus (passenstelsel).  Sistem pas jalan ini secara resmi dilaksanakan pada tahun 1863. Penduduk Timur Asing yang tinggal di Jawa dan Madura diharuskan memperoleh pas jalan yang berlaku

Setahun, orang Tionghoa diwajibkan memperoleh pas jalan setiap kali ia meninggalkan rumahnya.

Dengan peraturan-peraturan tersebut pemerintah Hindia Belanda mengawasi aktivitas sosial Tionghoa dan mencegah percampuran budaya untuk memelihara perbedaan rasial. Sistem pemukiman ini melarang orang Tionghoa untuk hidup diantara orang-orang pribumi, dan ini telah membatasi komunikasi antara orang Tionghoa dan ras lain.

Kemudian ada lagi Undang-undang Agraria tahun1870 yang melarang orang Tionghoa memiliki tanah persawahan dan berkecimpung dalam pertanian.

Pada awal abad ke-20, Gerakan Pan-Chinaisme bangkit di Jawa, dan Belanda membuat

konsesi terhadap orang Tionghoa: misalnya mereka menghapuskan wijkenstelsel dan passenstelsel. Namun ini tidak berarti tamatnya politik pemisahan Belanda. Pada tahun 1908,

Pemerintah Belanda mendirikan Hollands Chinese School (HCS), sebuah sekolah Belanda khusus untuk anak-anak Tionghoa. Ini juga mempertebal rasa pemisahan bagi orang Tionghoa.21

———————————————

Catatan

1.  Menurut peta pulau Jawa yang dibuat orang Portugis pada abad ke-16 muara sungai Cimanuk diperkirakan berada diSebelah hilir sedikit dari desa Pagirikan sekarang. Kehadiran tiga desa: Pabean, Pagirikan dan Pasekan memberi petunjuk bahwa disanalah  lokasi  pelabuhan Indramayu pada abad 16. Nama Pabean berasal dari kata “bea”, maksudnya bea cukai, nama Pagirikan berasal dari kata “girik” artinya surat izin untuk keluar masuk daerah pelabuhan, sedang desa Pasekan berasal dari kata “pasek” artinya tempat  penimbunan barang-barang yang akan bongkar muat di kapal. Lihat W.J.S Purwadarminta, Bahusastra Jawa, J.B. Wolters, Groningen, Batavia, 1937, hal. 34-145, 75.

2.      H.A. Dasuki, Sejarah Indramayu, Pemerintah Kabupaten DT II Indramayu, 1977, hal. 104-108.

3.       Sebagian besar orang Tionghoa di Indramayu termasuk keturunan sub-etnis Hok kian. Lih. Ronny Nathanael,  Pandangan terhadap materi di kalangan Orang Kristen berlatar belakang Etnis Cina, tesis untuk mencapai gelar Magister Theologiae, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, 1996, hal. 24.

Leo Suryadinata, Politik Tionghoa Peranakan di Jawa, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1994, hal.20 menyatakan bahwa: “Sebelum pertengahan kedua dari abad ke-20, orang Tionghoa di Jawa        sebagian besar terdiri dari para pedagang dan pengrajin Hok kian”.  Orang-orang Hok kian adalah orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Indonesia dalam  Jumlah yang besar, dan mereka merupakan golongan yang terbesar di antara imigran  imigran sampai  Abad  ke-19. Daerah asal mereka ialah Fukien Selatan, yang merupakan daerah penting  dalam bidang  perdagangan, Lihat Mely G. Tan (ED), Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia, Jakarta, PT Gramedia, 1979, hal.7.

Selain Hok kian, suku-suku Tionghoa yang ada di Indonesia adalah Hu-Pei, Sang-Tung, Tiociu, serta    Suku-suku  Lain yang masing-masing dikenal melalui usahanya, dari rumah makan, tukang kayu, Sampai logam, antara lain:  Kong Hu, Khek, Hok-Cia, Sen-Coan.

Alif Danya Munsyi, 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah asing, Jakarta, Kepustakaan  Populer Gramedia, 2003, Hal. 72-73.

4.       Prof. Kong Yuanzhi mencatat kurang lebih ada 1046 kata pinjaman bahasa Tionghoa dalam Bahasa Melayu-Indonesia, dan sebaliknya ada juga pengaruh bahasa Indonesia terhadap bahasa  Tionghoa. Uraian lebih rinci, lihat Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, Jakarta, PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, 2005, hal.194-235; 250-260.

5.        H.A. Dasuki, op.cit, hal. 129.

6.       David CL Ch’ng, Sukses Bisnis Cina Perantauan, Jakarta, PT Pustaka Utama Grafiti, 1995, hal. 41-45;

Drs.Hidajat Z.M., Masyarakat dan Kebudayaan Cina Indonesia, Bandung, Penerbit Tarsito, 1993, hal. 65-68

7.  Menurut Myra Sidharta tradisi ikat kaki ini berlangsung sejak dinasti Song sampai tahun 1917. Sejak lima tahun kaki tersebut diikat sedikit demi sedikit untuk mencegah pertumbuhannya sampai akhirnya  hanya  berukuran kurang-lebih 10-13 sentimeter. Ukuran kaki yang kecil ini ketimbang bobot badannya menyebabkan mereka tidak bebas bergerak, karena sulit menjaga keseimbangan. Uraian lebih lanjut  Lihat Myra Sidharta, “Korban dan Pengorbanan Perempuan Etnis Cina”, dalam I.Wibowo  (editor) Harga yang Harus Dibayar-Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia, Jakarta, PT Gramedia  Pustaka Utama, 2000, hal.  105-108;
Mengenai “foot binding” lihat Restu Pratiwi, Wanita pada Masa Tradisional Cina, Konfusianisme di  Indonesia-Pergulatan Mencari Jatidiri, Yogyakarta, Interfidei, 1995, hal. 223.

8.   Lihat Remy Sylado, Cing Cay La, Bandung, PT Karya Nusantara, 1978, hal. 221. Juga lihat Remy Sylado,

Ca Bau  Kan, Jakarta, KPG Kepustakaan Populer Gramedia, 1999, hal. 1-6

9 .  She muradif dengan klan, atau marga. She umumnya terdiri atas satu suku kata, tetapi ada juga yang   terdiri atas  dua  suku kata walaupun itu jarang dijumpai. Tidak ada orang yang tahu berapa tepatnya  jumlah she/marga yang dikenal orang Tionghoa, diperkirakan sekitar 600-an. Ada she yang umum  dijumpai, dan ada juga yang langka. Di Indonesia banyak didapati orang ber-she Tan (Chen, dalam  bahasa Mandarin, Chan dalam dialek Kanton). Selain Tan banyak juga yang ber-she Lim (Lin dalam  bahasa Mandarin). Sebetulnya di dunia ini yang paling banyak dijumpai orang ber-she Thio, yang dalam  dialek Hokian disebut Chang, orang Kanton melafalkannya sebagai Cheung atau Cheong. Dan dalam bahasa Mandarin ejaan Hanyu Pinyin, Thio ditulis Zhang.

Lihat Lily Wibisono (Penyunting naskah), Etnik Tionghoa di Indonesia, Jakarta, Intisari, 2006, hal.16. Lihat juga    Yusiu Liem, Prasangka terhadap Etnis Cina, Jakarta, Penerbit Djambatan, 2000, hal. 3.

Secara tradisional, orang Tionghoa menaruh nama keluarga/she atau marga di depan (misalnya Khoe), diikuti nama yang menunjukan posisi dalam hierarki keluarga yang disatukan dengan nama ketiga sebagai nama panggilan (misalnya Lian Tin).

10  Antara orang Jawa dan Cina sudah lama terjadi kecocokan, demikian tulis Tome Pires, sejarawan Portugis, menggambarkan kehidupan di pesisir utara Jawa abad ke-16. Para pendatang itu telah berbaur dengan pribumi. Bahwa tradisi itu telah hilang pada abad ke-19 tidak mengherankan sama  sekali. Orang Cina sedikit demi sedikit kemudian berhenti membaur dan orang Eropa bakal memisahkan mereka dari “orang pribumi”, dengan menganggap mereka ”orang asing timur”. Uraian  lebih jauh, lihat Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya 2, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 1996, hal. 45-47.

11.  Di pesisir utara Jawa, dimana banyak etnis Tionghoa bermukim, sejenis bahasa melayu pasar mulai berkembang sebagai lingua franca antara orang Tionghoa. Bahasa itu kemudian menjadi bahasa Melayu Tionghoa yang pada dasarnya bahasa Melayu tetapi tercampur istilah Hokkian. Lebih lanjut lihat Leo Suryadinata, “Negara dan Etnis Tionghoa- Kasus  Indonesia”, Jakarta, Pustaka LP3ES, 2002, hal.69-70.

12.  Berbeda dengan kehadiran pendahulu-pendahulunya, orang Tionghoa yang datang belakangan itu membawa  serta istri-istri mereka. Perkawinan dengan perempuan pribumipun jarang terjadi, pendatang yang lebih belakangan ini membentuk komunitas baru yang sering terpisah dari masyarakat Tionghoa yang telah mapan  dan terbentuk lebih dulu. Jumlah pendatang baru (totok/xin ke) lebih besar daripada pendatang sebelumnya juga kurang berintegrasi dengan masyarakat setempat, masih berbicara dengan bahasa Cina (dialek atau Mandarin), tetap berhubungan dan berorientasi kepada negeri asal, baik secara kultural maupun secara politis. Mereka disebut Zhongguo qiaomin (warga negara Cina yang tinggal di luar negeri) atau Hoa-Kiau.

13.  Istilah Kiau Seng dimaksudkan untuk menyebut orang Tionghoa bukan asli, yang  oleh lamanya tinggal di Hindia Belanda, maka tidak lagi menguasai bahasa resmi  Kuo-Yu kecuali bahasa lokal. Itu berbeda dengan  Hoa Kiau, yaitu golongan peran tauan yang merasa dirinya masih murni (totok), yang menganggap tinggal di Hindia Belanda hanya sementara saja sekedar mencari rejeki, lalu nanti pulang kembali ke tanah leluhur.

14.  Berdagang bukanlah satu-satunya profesi penting orang Tionghoa, ada juga profesi lain, misalnya pertanian dan perkebunan , Denys Lombard mencatat bagaimana keterampilan bertani orang Tionghoa yang memper kenalkan bajak alias wuluku. Menurut Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, alat yang ditarik sapi atau kerbau itu diperkenalkan Tjo Huan Giok pada abad 17, selain itu masih berkaitan dengan budidaya padi, orang Tionghoa memperkenalkan juga alat penyosoh,  yang  jauh lebih efisien untuk mengolah beras ketimbang  lesung tradisional. Denys Lombard, op.cit, hal 254; Lihat juga Nur Zain Hae, “Sebuah khazanah bernama Cina”, Forum Keadilan  No.44, 17 Februari 2002, hal.58-59.

15.  Myra Sidharta mencatat ketika melihat bahwa masyarakat Peranakan Tionghoa berada dalam suatu krisis identitas, terutama mengenai kebudayaan dan agamanya, maka Kwee Tek Hoay memprakarsai berdirinya Sam Kauw Hwee pada tahun 1934. Tujuan organisasi ini adalah mempersatukan, menyebarkan dan mempraktikkan tiga agama : Konghucu, Budhis dan Taois. Pada masa itu banyak orang Tionghoa masuk agama Kristen dan Kwee Tek Hoay sangat  menyayangkannya, mereka harus meninggalkan agama dan kebudayaan mereka sendiri. Misalnya mereka harus membuang meja abu, yang sebenarnya dipakai untuk menunjukkan bakti kepada leluhur dan bukan untuk memuja dewa-dewa seperti anggapan umum. Lihat Myra Sidharta, “Dari Penjaja Tekstil sampai Superwoman”, Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia, 2004, hal.14-16.  Lihat juga Leo Suryadinata, “Negara dan Etnis Tionghoa- Kasus  Indonesia”, op.cit, hal.179-181.

16.  Sam Kauw Hwee tidak dapat dikatakan membentuk satu iman atau pandangan keagamaan tunggal, karena merupakan perpaduan antariman sehingga dapat dikatakan bahwa kercayaan orang Tionghoa ” Ancestor worship and hau were the essence of Chinese religion in the Indies”, Lihat Natan Setiabudi, The Christian Chinese Minority in Indonesia with special reference to Gereja Kristen Indonesia: A Sociological and Theological Analysis, disertasi untuk mencapai gelar Doctor of Philosophy, Boston College, The Graduate School of  Arts and Sciences, Department of Theology, Boston, 1994, hal. 58.

Mengenai pemujaan leluhur (ancestor worship) sebenarnya yang diutamakan di dalamnya bukanlah aspek religious

melainkan aspek sosial, yaitu memelihara solidaritas, kontinuitas, keselarasan keluarga, dan selanjutnya masyarakat,

Lihat, Ronny Nathanael, op.cit, hal.93.

17. Moch Sa’dun M (ed), Pri dan Nonpri Mencari Format Baru Pembauran, Jakarta, Pustaka Cidesindo,

1999, hal.62; lihat juga H.Junus Jahja, Pri Nonpri dan Konvensi Cina Sedunia, Jakarta, Lembaga Pengkajian Masalah Pembauran, 1994, hal.9.

18. Peraturan itu dihapuskan setelah tahun 1911, Lihat Leo Suryadinata, Politik Tionghoa Peranakan di Jawa, op.cit, hal.21, 32.

19. Benny G. Setiono, Tionghoa Dalam Pusaran Politik, Jakarta, Elkasa, 2003, hal. 229-230; 472.

20. Lihat  Sumanto Al Qurtuby, Arus Cina-Islam-Jawa, Yogyakarta, Inspeal Ahimsakarya Press &Perhimpunan Indonesia Tionghoa, 2003, hal.193-194.

21. Lihat  Leo Suryadinata, “Negara dan Etnis Tionghoa- Kasus  Indonesia”, op.cit, hal.75-79.

SERAUT WAJAH JEMAAT DESA

MEMPERKENALKAN POS JEMAAT GKI JABAR INDRAMAYU YANG ADA DI LOSARANG

YOHANES ANG

P

ertumbuhan dan perkembangan suatu jemaat, tidaklah dapat dipisahkan dari lingkungan dimana didalamnya jemaat itu hadir. Dengan demikian maka pada awal tulisan ini akan disinggung sedikit perihal keadaan lingkungan yang ada disekitar dan mempengaruhi hidup serta perkembangan Pos Jemaat yang ada di Losarang.

Losarang adalah sebuah kota kecamatan yang terdiri atas 12 desa: Cemara, Muntur, Santing, Ranjeng, Losarang, Krimun, Puntang, Jangga, Jumbleng, Pangkalan, Rajaiyang dan Pegagan. Dengan luas wilayah lebih kurang 75 km2, serta jumlah penduduk sekitar 65.000 jiwa.

Jika kita menyelisik sejarah, sejak kapan permulaan “Injil” masuk ke Losarang, atau siapa orang Kristen yang pertama di Losarang maka hampir bisa dipastikan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya. Mencoba menelusuri sejarah menyangkut historiologi maupun historiografi adalah pekerjaan yang tidak mudah, satu usaha yang musykil untuk dilakukan. Karena peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu terlalu sulit dijangkau, apalagi jika tidak ada informasi yang jelas dan tidak ada arsip yang masih tersimpan.

Dan jika menggunakan tradisi lisan (penuturan nara sumber) yang kemudian menjadi persoalan ialah apakah yang mengemukakan tentang peristiwa-peristiwa itu bisa dijamin ke-shahih-annya, atau dengan kata lain apakah sumber itu benar-benar obyektif.

a.Periode Zending

Lembaga Pekabaran Injil NZV (Nederlandse Zendingsvereniging) mulai bekerja di Jawa Barat tahun 1863 M, NZV mengusahakan pelayanan kesehatan, pengobatan, pendidikan dan kegiatan lainnya.1)

Diperkirakan pada tahun 1910, atau mungkin beberapa tahun sebelumnya di desa Jangga Losarang dibuka sekolah Zending School (Sekolah Rakyat) 2) Tenaga pengajar yang ada pada saat itu, antara lain: Kho Im Liong, Wejalib dan Asmawi Tombo.

b.Periode Ramelan

Meskipun secara umum dapatlah dikatakan bahwa jemaat-jemaat yang lahir di Jawa Barat itu adalah hasil pekerjaan dari berbagai badan Pekabaran Injil luar negeri, seperti NZV misalnya, namun tidaklah semuanya demikian, sebab ada juga jemaat yang lahir secara alamiah berkat “Kesaksian” Pribadi-pribadi orang Kristen.

Dan sebagai contoh diantaranya adalah jemaat yang ada di Losarang. Walau demikian ini bukanlah lantas berarti bahwa usaha PI yang dilakukan oleh Zendeling tidak berbuah.

Adalah RAMELAN SISWOPURWOTO, satu nama yang penting untuk dicatat, ia lahir di desa Sanden-Klaten, Jawa Tengah tahun 1905  di desa kelahirannya ini Ramelan studi mendalami Alkitab, dan pada tahun 1927 dibaptis oleh Ds. FL.Bakker di jemaat Sanden-Klaten.

Setelah selesai dari Sekolah Jururawat di Purwakarta, pada tahun 1932 Tuhan mempertemukan Ramelan Siswopurwoto dengan Miryam Ashar dalam satu ikatan pernikahan, yang kemudian dikaruniai seorang putra dan empat putri.

Sehubungan dengan profesinya sebagai jururawat maka pada tahun 1933 beliau ditugaskan di rumah sakit Junti Kebon. Tahun 1942 pindah tugas ke Haurgeulis, baru kemudian pada tahun 1944 bertugas sebagai “Mantri Klinik” (Pelayan Kesehatan) di Poliklinik (sebutan untuk Puskesmas pada masa itu) Losarang.

Ditempat tugas yang baru inilah Ramelan merasa tergerak hatinya untuk membentuk suatu persekutuan, yang diwujudkannya dengan mengadakan kebaktian keluarga dirumahnya sendiri, jalan raya Puntang no.64 Losarang. Supaya kebaktian ini dapat berlangsung secara teratur dan bertanggung-jawab, maka beliau meminta supaya GKI Jabar Indramayu sebagai jemaat induknya.

Permintaan ini disambut baik oleh Majelis Jemaat ketika itu, dan pada tanggal 27 April 1963 secara resmi terbentuklah Pos P.I. (Pekhabaran Injil) Losarang, dengan susunan pengurus: Ramelan.S, sebagai Ketua, Tanoto (Tan How Lok) sebagai Sekretaris dan Kwa Ek Kiong sebagai bendahara.

Dalam kurun waktu tiga tahun (1963-1966) hanya sekitar 7 sampai 8 orang saja yang hadir dalam kebaktian, baru diawal tahun 1967 rata-rata dalam setiap kebaktian diikuti oleh sekitar 30 orang, dan jumlah ini terus bertambah sehingga rumah yang digunakan untuk kebaktian tidak lagi dapat menampungnya.

Mengingat akan kebutuhan adanya tempat kebaktian yang lebih besar dan lebih luas, maka pada tanggal 28 Maret 1968 dibentuklah panitia pembangunan gedung gereja.

Walaupun panitia pembangunan sudah memperoleh sebidang tanah seluas 500 m2 ditepi jalan raya jalur pantura desa Krimun, namun sampai hampir lebih dari 5 tahun pembangunan gedung gereja masih belum dapat segera dikerjakan, ini disebabkan karena pada saat itu dana yang tersedia masih belum mencukupi, dan diatas tanah kosong tersebut masih dipakai sebagai bengkel oleh Unit Eksalbes Losarang (Proyek upgrading jalan raya antar propinsi di Losarang waktu itu).3)

c. Periode 70-an

Tahun 1978 adalah merupakan tahun anugerah Tuhan bagi warga jemaat Pos P.I. Losarang, ditahun ini satu tempat ibadah yang cukup permanen bisa didirikan, berkat dukungan dana dari jemaat induk GKI Indramayu dan para donatur, dan pada tanggal 19 oktober 1978 diresmikan sebagai gedung Pos P.I. Losarang dalam sebuah kebaktian pengucapan syukur oleh Pdt.Titus Yansaputra. Apa yang menjadi kerinduan dari Ramelan Siswopurwoto terwujud sudah, sekalipun beliau sendiri tidak sempat menyaksikan karena Tuhan telah memanggilnya pulang 9 oktober1975, pada usia 70 tahun.

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kegiatan selama tahun pelayanan 1970 sampai 1979 tidaklah mudah, karena saat itu administrasi jemaat kurang mendapat perhatian, banyak catatan-catatan penting yang rusak atau hilang sehingga sulit untuk bisa mengetahui keadaan/kegiatan pelayanan dalam kurun waktu tersebut.

Hanya ada beberapa hal penting yang masih bisa ditemukan datanya dalam tahun pelayanan 1970 sampai 1979, antara lain:

Statistik anggota jemaat per-desember 1975: 16 orang BD (Baptis Dewasa), 7 pria + 9 wanita.

Statistik anggota jemaat per-desember 1979: 19 ORANG BD (10 pria + 9 wanita)  dan 10 anggota BA (Baptis Anak).

Seperti pada periode sebelumnya (tahun 60-an) pada kurun waktu 70-an ini pelayanan di Pos P.I. Losarang selain dilayani oleh Pdt.Titus Yansaputra sekali dalam sebulan, selebihnya melibatkan juga pelayan Firman non-pengerja untuk turut ambil bagian, diantaranya adalah: Ramelan, Farida.S, Rachman Setyono, Haryono dan Str.Pramono.

d. Periode 80-an.

Pertumbuhan serta perkembangan kehidupan jemaat Pos P.I.Losarang dalam periode 80-an penuh dengan catatan-catatan yang cukup menggembirakan. Jumlah anggota jemaat per-juli 1983 tercatat 53 orang, seperti yang dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

Statistik anggota jemaat

Dewasa                anak                   Jumlah

Pria-Wanita(BD)   Pria -WanitaBA)

Keadaan tahun 1980                               10     9                   5    5                          29

Penambahan

Baptis/P.Percaya                                        8     3                   3    1                          15

Atestasi masuk                                             4     5                   4    4                          17

———————————————————

22    17                 12   10                       61

Pengurangan

Pindah                                                                2     2                    2    2                            8

Meninggal                                                           –      –                    –     –                            –

——————————————————————

Keadaan per-Juli 1983                                 20    15                10   8                                                                               ———-                ——–

Keadaan per-Juli 1983                                       35                          18                           53

Kebaktian Rumah Tangga

Pada dekade 80-an ini KRT berjalan secara rutin setiap hari rabu malam, pukul 19.00 wib, dengan mengambil tempat dirumah anggota jemaat yang memintanya (dari rumah kerumah), KRT ini dilayani oleh Pdt. Suripto Christoferus, Pengurus Pos P.I. Losarang (Tirta Hadirat Yunus, Medinah Ramelan, Purnawan Wijaya dan penulis), juga terkadang dibantu oleh siswi SPWK (Sekolah Pengerja Wanita Kristen) Magelang yang sedang menjalankan tugas praktek (sekitar 3 bulan), seperti: Tambar Tarigan (th 1983), Ezrawati Manik (th 1984), Suparmi HS (th 1985) dan Ester Surani (th 1986). Anggota jemaat yang hadir dalam KRT yang diharapkan dapat meningkatkan persekutuan sambil bersatu dalam Firman dan doa ini lebih kurang sekitar 25 orang, dan bagi “domba-domba lain” yang masih malu dan segan untuk langsung datang kegereja, biasanya mereka mau menghadiri KRT yang diadakan dirumah tetangga atau kerabatnya ini. Dan dengan demikian maka berkat serta keselamatan dari Tuhan boleh juga tersalur kepada mereka.

Sekolah Minggu

Sejak tahun 1976 sampai 1983 pelayanan Sekolah Minggu cukup memprihatinkan, setidaknya jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, semasa masih ada Ramelan Siswopurwoto. Namun demikian, sekalipun jumlah anak-anak SM yang hadir hanya sekitar 7 sampai 8 anak saja tetapi tetap dengan setia dilayani oleh Medinah Ramelan sebagai guru SM pada saat itu. Adapun yang menjadi penyebab kemunduran SM ini adalah : 1. Banyak Anak-anak SM yang “Hijrah” karena adanya usaha yang kurang terpuji dari denominasi lain yang “mengail  di aquarium orang”

2. Pelayanan SM kurang mendapat perhatian yang cukup serius. Menyikapi hal tersebut, Pengurus Pos PI Losarang terus berupaya  agar dapat mengembalikan ASM yang menyeberang itu walaupun hasilnya belumlah seperti apa yang diharapkan.4)

PAK  (Pendidikan Agama Kristen)

Pada pertengahan tahun 1984, penulis melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah negeri yang ada di Losarang untuk meminta data siswa-siswi yang beragama Kristen di sekolah-sekolah tersebut. Dan dari pihak sekolah (1.SMAN, 1.SMPN, 1.SMP Swasta dan 9 SD Negeri) memberikan respons positif atas permintaan itu.

Kemudian pada tanggal 25 Juli 1984 penulis mendapat surat tugas mengajar sebagai GATT (Guru Agama Tidak Tetap) yang dikeluarkan oleh Pembimbing Masyarakat (Kristen) Protestan Kanwil DEPARTEMEN AGAMA Prpinsi Jawa Barat. Karena siswa yang beragama Kristen di tiap-tiap kelas pada beberapa sekolah itu jumlahnya kurang dari 10 orang, maka PAK belum bisa dilaksanakan disekolah.5 ) Ada 43 murid SDN, 24 SMP dan 8 siswa-siswi SMAN yang sejak saat itu mengikuti PAK di gedung gereja Pos PI Losarang.  Dengan diadakannya PAK ini maka Sekolah Minggu yang dalam beberapa tahun sebelumnya sempat mengalami kelesuan kelihatan sudah  mulai dapat berjalan kembali, karena siswa-siswi yang mengikuti PAK sebagian besar (usia SD) mengikuti juga SM, dan yang remaja ( SMP serta SMA ) ikut aktif pula dalam berbagai kegiatan lainnya, seperti vocal group dan menghadiri KRT. Jumlah anak-anak SM yang hadir cukup menggembirakan, keberhasilan  “menarik” kembali ASM ini disambut baik oleh Pengurus Pos PI Losarang dengan peningkatan pelayanan SM yang lebih intensif, serta adanya dukungan dana setiap bulan untuk SM dari gereja induk di Indramayu.

e. Periode 90-an (Perubahan nama dari Pos P.I. menjadi Pos KPK)

Sekalipun William Shakespeare  pernah mengatakan: what’s in a name?, tetapi nama sesungguhnya mempunyai makna bagi penyandangnya, karena menunjuk pada jati diri, atau paling tidak ciri-cirinya. Dalam kaitannya dengan hal ini, perubahan nama “Pos Jemaat” mempunyai makna penting pula, karena dengan begitu Pos Jemaat menyatakan jatidirinya yang baru atau setidak-tidaknya ciri-ciri yang baru. Hal itu berlaku bagi perubahan nama “Pos Pekhabaran Injil” yang kemudian menjadi “Pos Kebaktian Pelayanan dan Kesaksian (KPK)”.  Alasan perubahan nama dari Pos PI menjadi Pos KPK tidaklah mudah untuk dijelaskan, karena memang tidak ada literatur yang dapat dipakai sebagai rujukan yang mencatat hal itu. Kecuali hanya dalam “Tata Laksana Bakal Jemaat dan Jemaat Baru” GKI Jabar yang disahkan oleh PMS ke-43 tahun 1985, yang menyebutkan :”Pos Kebaktian Pelayanan dan Kesaksian (KPK),” dalam pasal 2. Barangkali yang menjadi dasar pertimbangan perubahan nama itu adalah karena kalau dulu pada masa Zending sampai dengan tahun 70-an, ada semangat yang begitu besar untuk “mencari jiwa” (PI), sedangkan sejak periode 80-an sampai sekarang, dengan tanpa mengurangi semangat PI tapi perlu pula disertai dengan mewujudkan Persekutuan dan Pelayanan, sesuai dengan harkat dan tugas panggilan gereja.

Gedung Baru Pos KPK Losarang

Sehubungan dengan gedung ibadah yang dibangun tahun 1978 hanya berjarak beberapa meter dari jalan raya yang tidak pernah sepi dari kepadatan arus lalu-lintas jalur Pantura, jalur yang dilewati oleh kendaraan dari arah Jakarta – Cirebon- Jawa Tengah  dan sebaliknya, maka polusi asap knalpot serta kebisingan deru suara kendaraan yang lewat terasa cukup mengganggu ke-khusyukan ibadah kebaktian. Berkenaan dengan hal itu maka Majelis Jemaat dan Komisi (pengurus) Pos KPK Losarang merencanakan pemindahan gedung kebaktian dengan membangun gedung baru dibelakang gedung yang lama. Awal tahun 1994 pembangunan gedung baru mulai dikerjakan, dan pada tanggal 15 Desenber 1994 dilangsungkan Kebaktian Syukur peresmian gedung baru Pos KPK Losarang, dipimpin oleh Pdt.Ronny Nathanael. Kebaktian Syukur peresmian gedung ini juga dimeriahkan dengan lantunan tembang pujian dari jemaat Pos KPK Losarang dalam bentuk kesenian tradisional yang disebut oleh majalah Kairos edisi Februari 1995: “Tarling rohani”.6) Barangkali tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa dikalangan gereja-gereja Pantura (Indramayu-Cirebon) hanya Jemaat GKI Indramayu yang ada di Losarang ini yang pertamakali mencoba mengangkat kesenian daerah”tarling” masuk kedalam pelayanan gereja.

Sebab bagaimanapun juga dengan menaruh perhatian terhadap nilai-nilai budaya setempat itu sama artinya dengan ikut melestarikan budaya bangsa, turut memperkaya kontekstualisasi lagu-lagu gereja, dan yang lebih penting adalah bahwa Tarling dapat merupakan sarana paling efektif untuk memashyurkan nama Tuhan. Suatu kepedulian terhadap akar budaya yang sangat positif dan perlu dikembangkan, demikian menurut Pdt.Ferdy Suleeman, Ketua Sinode GKI Wilayah Jabar saat itu, dalam percakapan dengan penulis setelah beliau menyaksikan pagelaran Tarling KPK Losarang, di Jemaat GKI Pamanukan 6 Pebruari 1995.

Tarling

Masyarakat Indramayu atau Cirebon pasti mengenal “Tarling”, karena merupakan salah satu kesenian tradisional yang banyak digemari. Tetapi bagi masyarakat diluar  daerah itu yang belum pernah melihat sosok asli Tarling tentu akan mengatakan bahwa itu tak lebih tak kurang dari music dangdut yang liriknya berbahasa Indramayu atau Cirebon seperti yang sering ditayangkan lewat  layar TV, padahal tarling itu sendiri bukan dangdut.

Musik tradisional tarling selain memakai tangga nada heptatonik (tangga 7 nada) sebagaimana yang biasa kita temukan dalam musik pop atau dangdut, juga mempergunakan tangga nada pentatonik (tangga 5 nada), seperti dalam lagu-lagu: Kiser, Bendrong, Waledan, Dermayon, Jonggrang, Kranginan dan seterusnya.

Berdasarkan etimologinya, tarling adalah (gi)-tar   (su)-ling, dan dalam perkembangannya sekarang dilengkapi pula dengan sejumlah instrumen lain seperti: kendang, gong, kecrek, saron, tutukan, gender, kempul bahkan sampai alat musik elektronik seperti  : bass guitar dan keyboard.

Adalah Dr. Liberty Manik, dalam majalah Berita Oikoumene, april 1984 mengatakan bahwa: untuk memanfaatkan lagu-lagu tradisional dalam usaha pempribumian lagu-lagu gerejawi di Indonesia, maka suatu melodi tradisional bila memenuhi syarat dapat diangkat menjadi lagu gerejawi dengan teks rohani pada melodi tersebut.

Upaya memanfaatkan lagu-lagu tradisional dalam usaha pempribumian lagu-lagu gerejawi, memang sudah diawali oleh gereja Calvinis pada zaman reformasi dimana Maitre Pierre dan Louis Bourgeois telah mengadaptasi sejumlah besar lagu rakyat yang populer masa itu ke dalam gereja.

Dan saat inipun sudah banyak gereja-gereja yang mencoba mengangkat kesenian daerahnya untuk lagu-lagu gerejawi, dalam rangka kontekstualisasi lagu-lagu gereja.

Namun sangatlah disayangkan, jika dikalangan gereja-gereja di sepanjang jalur pantai utara (pantura), dari Pamanukan sampai Cirebon – Sindanglaut, nampaknya sampai saat ini masih belum ada usaha untuk mengangkat unsur kesenian daerah dalam kehidupan pelayanan gereja, sikap gereja yang ada di daerah ini terhadap kesenian daerahnya (dimana gereja itu hadir dan melayani) agak pasif. Barangkali ada gereja yang mempunyai keinginan ke arah itu, tetapi tidak memiliki orang atau sarana yang dapat mengembangkan serta mewujudkannya, karena memang tidaklah mudah untuk memainkan alat musik tradisional seperti : gitar, suling, kendang, gong dan seterusnya.

Juga tidaklah gampang menyanyikan lagu tarling laras pelog yang swarantaranya didekatkan kepada skala diatonik, yang sarat dengan singgul, cengkok, seloka dan wangsalan (istilah-istilah khas  dalam musik tarling), plus warna suara vocal yang kental dengan dialek daerah.

f. Periode Pra  &  Pasca tahun 2000

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sejak pertengahan tahun 90-an terlihat ada perkembangan diberbagai sektor kehidupan masyarakat Losarang yang ditandai dengan  bermunculannya beberapa jenis usaha baru seperti pabrik keramik, tambak udang, toko dan lainnya, yang sekaligus juga mengundang pendatang dari luar daerah dan diantaranya ada yang beragama Kristen.  Sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan tersebut, maka untuk dapat lebih mengoptimalkan pelayanan Pos KPK Losarang, dirasa perlu adanya tenaga khusus yang melakukan tugas pelayanan gerejawi  (mengajar Sekolah Minggu dan pemeliharaan pertumbuhan iman jemaat), yang menempati konsistori gereja.

Awal Januari 1995, Wahyu Budiono lulusan STAK (Sekolah Tinggi Agama Kristen) Surakarta mulai bertugas di Pos KPK Losarang sebagai guru PAK dan melaksanakan tugas pelayanan gerejawi. Sebelumnya (tahun 1993-1994) tugas tersebut diisi oleh Rikel Tiwan yang juga lulusan STAK . Setelah lebih dari 30 tahun terbentuknya Pos Jemaat di Losarang (pos PI diresmikan tahun 1967) baru pada tahun 1995 mempunyai tenaga pelayanan yang menetap di Losarang.

Arena Bermain Anak-Anak Sekolah Minggu

Menyadari bahwa anak SM adalah generasi penerus gereja, maka dengan penuh perhatian Pengurus Pos KPK Losarang terus berusaha untuk membenahi serta meningkatkan pelayanan SM ini. Walaupun SM adalah juga sarana kebaktian yang bertujuan menumbuhkan iman dan rohani anak sedini mungkin, supaya anak-anak sejak kecil sudah dapat mendengar Firman, berdoa dan memuji Tuhan, namun agar dapat lebih memikat anak-anak supaya mau mengikuti SM rasanya tidaklah cukup hanya dengan mengimbau agar orang tua dapat mendorong anak-anaknya dan memberikan variasi cara mengajar saja, mengingat bahwa pada hari minggu pagi (jam-jam SM) banyak film serta acara menarik yang ditayangkan stasiun televisi.

Dengan pertimbangan untuk meningkatkan jumlah anak yang datang mengikuti SM, dan juga sekaligus memanfaatkan lahan kosong yang ada dibelakang gedung gereja, maka Pengurus Pos KPK merencanakan pembuatan tempat bermain untuk anak-anak SM, karena dunia anak-anak memang dunia bermain dan anak-anak identik dengan bermain.  Pembuatan tempat bermain ini dikerjakan secara bertahap, menghabiskan dana Rp.13.000.000- yang diperoleh dari swadaya jemaat Pos KPK Losarang serta sumbangan dari beberapa donatur yang ada di Indramayu dan Jakarta. Awal Maret 2001 pembuatan tempat bermain untuk ASM dapat diselesaikan, dan sejak bulan April 2001 sudah mulai dipakai untuk kegiatan SM yang sebelumnya diadakan di gedung gereja.  Pengurus Pos KPK Losarang masih terus mengupayakan agar tempat bermain tersebut dapat dilengkapi dengan alat-alat permainan seperti: prosotan, jungkat-jungkit, ayunan dan lainnya yang ternyata memerlukan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Untuk itu Pengurus Pos KPK Losarang sangat mengharapkan adanya dukungan dana dari jemaat yang peduli akan pelayanan SM di Pos Jemaat GKI Indramayu yang ada di Losarang.

Tabulasi data dari buku induk keanggotaan jemaat Pos KPK Losarang per-September 2001:

Status                 Laki-laki       Perempuan      Jumlah

Baptis Anak                18                14                  32

Baptis Dewasa/PP   30                59                  89

Jumlah                          48                73                121

Sedangkan komposisi variasi etnis anggota jemaat adalah sbb:

Etnis            Baptis Anak     Baptis Dewasa   Jumlah

Tionghoa           12                       43                55

Jawa                      5                       32                37

Batak                    15                       14                29

Tidak jelas         –                        –                  –

Jumlah               32                       89               121

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa sejarah pertumbuhan dan perkembangan Pos Jemaat GKI Jabar Indramayu yang ada di Losarang ini memang cukup panjang, dan rasanya tidaklah mungkin untuk bisa dituliskan semuanya disini, sebab apa yang ditulis masih belum selengkap seperti yang diharapkan, banyak bagian yang samar dan kurang jelas, adapula bagian peristiwa-peristiwa penting yang terpaksa lolos atau diungkapkan tidak cukup menyeluruh.

Dan barangkali juga banyak orang yang terlibat serta ikut ambil bagian memberi sumbangsih yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan pos Jemaat di Losarang, namun jika saja nama mereka tidak tercantum disini, itu sama sekali tidak berarti bahwa nama-nama itu dianggap kurang penting, tetapi hanya karena keterbatasan yang tentunya tidaklah dapat mencatat  dan menyebut semua nama.

Didalam usaha menggambarkan potret kehidupan Pos Jemaat Losarang sudah tentu penulis tidak bermaksud memberikan lukisan sempurna, yang dapat dilakukan hanyalah sekedar menampilkan raut-raut tertentu untuk mempertajam gambaran konteks dimana Pos Jemaat hidup dan terpanggil untuk melayani. Kurun waktu yang hampir 40 tahun memang merupakan sebuah perjalanan panjang, dan tentu saja menghadirkan banyak peristiwa serta berbagai pengalaman pelayanan yang cukup berharga. Terkadang terasa sangat melelahkan karena harus mendaki jalan yang menanjak tinggi dan tiba-tiba harus pula menuruni jalan sangat curam, membuat langkah menjadi lamban bahkan sering terjadi hanya jalan ditempat. Untuk mencapai tujuan memang tidak bisa dilakukan dengan cara memanjat sambil meloncat, tapi setapak demi setapak,  yang jelas Pos KPK Losarang bertumbuh terus dan terus, keberadaan, kehadiran dan perkembangannya dari tahun ke tahun tetap terasa.

Perjalanan panjang telah ditempuh, segala suka duka telah dilalui dan kini dengan berbekal pengalaman-pengalaman pelayanan masa silam pos KPK Losarang menatap masa depan, menyiapkan hari esok, menyongsong peningkatan status dari pos KPK menjadi Bakal Jemaat tahun 2002 mendatang.

CATATAN-CATATAN

1. Mulai bulan Juni 1864  sampai dengan maret 1940 pelayananan di jemaat Indramayu sebagian besar dilakukan bergantian oleh para pendeta dari NZV (Perhimpunan Zending Belanda). Lebih jauh tentang hal ini, lihat, Ronny Nathanael, “pandangan terhadap materi dikalangan orang Kristen berlatar-belakang etnis Cina”, tesis untuk mencapai gelar Magister Theologiae, Universitas Kristen Duta Wacana , Yogyakarta, 1996, hal.35-44.

2.  Prof. Dr. Priguna Sidharta, “Seorang dokter dari Losarang” (Sebuah otobiografi Priguna Sidharta), Jakarta, Temprint, 1993, hal.11-12, mengatakan bahwa: “Ayah masuk Sekolah  Rakyat yang dulu dikenal sebagai  sekolah kelas dua. Setelah kelas 3 ayah pindah kesekolah Belanda partikelir. Gurunya seorang Belanda-Indo, murid-muridnya adalah anak-anak keturunan Cina dari desa-desa sekitar Losarang”.

Merujuk pada otobiografi yang ditulis Dr.Sidharta tersebut, maka penulis dapat memperkirakan bahwa Sekolah Zending yang ada di Losarang berdiri sekitar tahun 1910 atau malah sebelumnya, mengingat Sie Hway An (ayah dari Dr.Sidharta) lahir pada tahun 1901.

3. Yohanes Ang, “pertumbuhan dan Perkembangan Pos Pekabaran Injil Losarang”, 1983  (Sebuah catatan populer 40 halaman,  yang merupakan sumbangan tulisan untuk buku Peringatan 125 tahun Gki Jabar Indramayu), hal.10-12.

4. Ibid, hal. 16-21.

5. Lihat, Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Agama Republik Indonesia, Nomor 0198/U/1985 dan Nomor 35 tahun 1985 Bab II, Pasal 4.

6. Kairos, No.26 Th III, Pebruari 1995, hal.30. Lihat juga “Media Komunikasi”  GKI Jabar Klasis Jakarta Timur, No.4, Tahun I, desember 1995.


PENDETA BOKSU DOMINEE

Pooling

Agar tongkat estafet bergulir mulus maka disuatu jemaat yang pendetanya akan memasuki masa emiritasi, mulai mempersiapkan  mencari calon pengerja baru.

Sebuah tim dibentuk dan sejumlah prasyarat ditentukan, antara lain: sang calon pengerja harus pandai berkhotbah, harus rajin melawat anggota jemaat, harus ramah dan santun perilakunya, harus disenangi jemaat lanjut usia, dapat diterima kaum wanita, harus mendapat tempat dihati kaum muda, remaja dan anak-anak, dan masih ada sederet “harus” yang lain, yang menunjukan gambar ideal seorang pemimpin jemaat.

Kemudian, dalam Persidangan Majelis Jemaat keluarlah keputusan supaya Koordinator Bidang Pembinaan membuat angket untuk menjajaki pendapat serta pandangan dari jemaat perihal calon pengerja yang akan melayani di gerejanya, karena jemaat bukanlah “domba” yang harus selalu dibimbing dan menuruti saja sang “pemimpin” tanpa perlu diperhatikan pendapatnya.

Pembuatan pooling adalah satu ide kreatif yang mengisyaratkan bahwa “para pejabat gerejawi” mempunyai visi luas. Namun, sayang, apa boleh buat, polling yang sudah dibuat itu jadi mubazir karena batal disebarkan, walhasil, usaha untuk mencari tahu mengenai pandangan atau gambaran ideal dari warga jemaat tentang calon pengerjapun tak bisa didapatkan.

Dominee, Boksu dan Pendeta

Pada zaman voor De Oorlog, istilah yang dipakai untuk menyebut pemimpin jemaat adalah “dominee”, yang berasal dari kata Latin “ dominus” : “tuan”. Ini memang istilah luar biasa , sebab artinya tidaklah muradif dengan “mister’ dalam bahasa Inggris, melainkan lebih dekat dengan kata “lord”, gelar yang diwariskan turun-temurun, kaum bangsawan, para elit yang duduk di kursi Majelis Tinggi dalam sistem bikameral.

Sekarang Protestan memilih kata sansekerta Pandita, dieja Pendeta untuk menyebut pemimpin gerejanya, mengganti kata-kata bahasa Eropa, dominus (Ds), reverend (Rev), dan kata bahasa Hokkian :Boksu.                                         Konon dalam leluri Hindu , pandita awalnya adalah padan dari cendekiawan atau bijaksanawan, orang yang mempunyai kedudukan terhormat yang dalam Negarakertagama disebutkan : “Sakweh sang pandita ng anyadharani mangiket kastawan sri narendra”.

Dan ada juga masanya di Minangkabau, ulama Islam disebut pendeta, seperti  yang terekam dalam novel Marah Roesli, Siti Noerbaja :”tatkala dilihat oleh pendeta itu akan hal…..”

Menurut cerita-cerita wayang dan berbagai karya sastra lama, gelar pandita diberikan kepada orang yang sudah diuji kemampuannya  menempuh “tapa brata”, lulus “ngelmu”  dan mempunyai “Kesakten” bukan dalam arti ”power” seperti dalam pengertian orang barat, demikian ungkap Benedict Anderson seorang ahli politik yang banyak mendalami budaya Jawa, dalam karya besarnya: The Idea of Power in Javanese Culture.

Jika pada denominasi lain ada sebutan “gembala sidang”, maka istilah yang lazim dipakai dilingkungan GKI adalah :”Pengerja”. Namun, dari berbagai sebutan diatas, barangkali,  yang lebih Alkitabiah adalah :“Pelayan”, yang menunjukkan sikap dan gaya hidup seperti Yesus, Tuan (dominus) yang justru merendahkan diri menjadi pelayan bagi murid-muridNya.

1001 macam urusan

Pada umumnya warga jemaat memberi tempat istimewa untuk pendeta, malah bagi sebagian jemaat, pendeta adalah semacam “wakil Tuhan dibumi” perantara untuk sampai kepada Allah, oleh sebab itu tak usah aneh jika ada jemaat yang merasa kurang pas apabila belum dikunjungi atau didoakan oleh pendetanya, kalau hanya dilawat oleh penatua atau tim pelawat rasanya masih “kurang”, karena berkat dari “boksu” itulah yang sangat diharapkan jemaat. Kehadirannnya ditengah keluarga yang dilawat  terasa membawa kesejukan.

Bagi sebagian yang lain, pendeta dianggap orang yang serba tahu (tahu lebih banyak tentu lebih baik  ketimbang tahu lebih sedikit), karena itu maka tidak   jarang semua urusan dibawa kepada pendeta, tentu saja dengan harapan pendeta nanti dapat menyelesaikannya atau paling tidak bisa mencarikan jalan keluar dari segudang permasalahan yang dihadapinya.

Beragam persoalan memang, dari soal mencari pekerjaan, mencari jodoh, penyembuhan sakit-penyakit, perselingkuhan, mencari sekolah, bahkan mungkin sampai urusan minta modal usaha, dan seterusnya, etc.

Karena pendeta kadung dianggap serba bisa, maka seringkali semua urusan gereja harus jadi tugasnya, dari berkhotbah, mengunjungi oang sakit, memberi nasihat perkawinan (bina pranikah), melayani jemaat yang pulang ke rahmatullah (pemakaman), mengambil sumpah jabatan pada saat pelantikan, bahkan kalau perlu sampai “menyapu dan mengepel lantai gedung gereja” (jangan kaget ini cuma guyon  yang barangkali agak berlebihan).

Kalau saja yang menjadi kriteria  untuk menerima seseorang menjadi pendetamasih mempersoalkan prasyarat ideal seperti gambaran “harapan sekaligus tuntutan” yang disebutkan diatas, maka rasanya mustahil untuk bisa menemukan sosok seperti itu dalam diri seorang manusia biasa, kecuali manusia luar biasa yang bukan bearasal dari planet bumi. Sedangkan sosok pendeta tidak lebih tidak kurang adalah manusia yang barangkali punya nama si Suparman bukan Superman (meminjam istilah pengantar film: maaf, kesamaan nama hanya kebetulan, tanpa maksud kesengajaan).

Gambaran tentang sosok pendeta, menurut Lucile Lavender dalam bukunya :They Cry Too, seringkali tidak tepat. Citra pendeta sebagai “manusia luar biasa” dan seraya “hamba yang menderita” yang  sesungguhnya sangat paradoksal, tidak pelak lagi masih melekat kuat pada banyak warga jemaat, karena itu banyak gereja menuntut pendetanya dengan berbagai kualifikasi, sebab ia dianggap “Superman”, namun sebaliknya kurang memenuhi kebutuhan dan tidak mau tahu kekurangan serta keterbatasannya, sebab toh ia “harus menderita”.

Pendeta memang memiliki tugas dan panggilan khusus, tetapi mereka juga bukan manusia yang sempurna, bukan insan kamil yang zakiah, karena itu perlu diperlakukan dalam batas wajar sebagai “teman” bukan “Superman” yang harus serba bisa. Dengan begitu, maka hubungan antara mimbar dan bangku gereja, antara pendeta dan jemaat termasuk Penatua dapat mewujudkan harmonisasi yang ahsan. “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan”.

Pendeta adalah manusia biasa yang  juga punya kekurangan dan keterbatasan, bisa marah, bisa jatuh, bisa sakit, perlu makan, punya ambisi, punya keluarga dan seterusnya. Dan rasanya tidaklah salah untuk menjadi manusia biasa, karena Junjungan Agung kita juga menjadi manusia biasa: merasakan lapar, sedih, menangis, gembira, takut (Ibrani 4:15; 5:7-8).

Karena itulah pendeta jangan terlalu disanjung, tapi juga jangan dipentung, boksu jangan diobok-obok dan dianggap musuh. Memang tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa pendeta itu adalah “pelayan jemaat”, tapi apa yang tidak salah bukanlah lantas berarti sepenuhnya benar, karena jemaat juga “bukan tuannya”, pendeta bukan “pelayan pribadi” tapi “pelayan Allah”.

Janganlah kita menghargai pendeta hanya karena ia selalu menyenangkan selera dan selalu sependapat dengan kita. Pendeta yang baik adalah pendeta yang mempunyai pendirian teguh, namun bukan keras kepala.

Pendeta tentu saja tidak dapat mengerjakan semua hal, oleh sebab itu kita sebaiknya memberikan kesempatan agar pendeta dapat berkonsentrasi penuh untuk tugas pokoknya, berkonsentrasi penuh untuk tugas-tugas yang hanya dapat dilakukan oleh pendeta, misalnya khotbah, karena khotbah punya fungsi sentral dan strategis. Sedang tugas-tugas lain yang dapat dikerjakan dengan lebih baik oleh yang bukan pendeta, kenapa tidak dikerjakan oleh yang bukan pendeta, misalnya pelawatan jangan hanya menjadi monopoli pendeta saja.

Sebab dengan dilibatkannya lebih banyak anggota gereja dalam pelayanan itu bukan supaya pendeta “nganggur”, tetapi supaya semua pekerjaan dapat terselenggara dengan baik, karena mendorong 10 orang untuk bekerja lebih baik ketimbang memborong pekerjaan 10 orang.

Pendeta harus melayani gereja, itu tidak bisa ditawar-tawar lagi, tetapi bukan melayani dalam arti memantapkan establishmentnya,

Memelihara status quo, tradisi dan rutinitas gereja. Yang penting dan utama adalah melayani gereja dalam pembaharuan yang terus menerus supaya gereja makin mampu menghadirkan diri dan melaksanakan fungsinya sebagai gereja ditengah masyarakat. Mampu menerjemahkan dan mempraktekkan teologi melalui pelayanan kependetaannya sekaligus mampu menjiwai pelayanan kependetaannya dengan visi dan persepsi teologis yang jernih dan jelas.

Hubungan serta kerjasama yang baik antara jemaat dengan pendetanya sangatlah menentukan berhasil tidaknya tata tentrem gereja raharja, oleh sebab itulah maka perlu mewujudkan kesaling-pahaman seraya hindari kesalah-pahaman, karena saling pengertian, kesehatian serta dukungan dari seluruh warga jemaat terhadap pendetanya, merupakan asset yang amat besar artinya untuk mengembangkan pelayanan gereja Tuhan.

Akhirul Kalam, tulisan ini sama sekali tidaklah dimaksudkan untuk “mengajari” atau membuat uraian teoritis perihal hubungan antara jemaat dengan pendeta, tulisan ini hanya sekedar tulisan, bukan pembelaan, bukanpula pembenaran, oleh karena itu boleh setuju dan boleh juga tidak setuju, karena hati nurani adalah mahkamah Illahi, maka akhirnya terserah sampeyan.

Salam Takzim,

Yohanes Ang

PENATUA

Yohanes Ang

Konon ada seorang peserta katekisasi sedang diuji secara lisan akan pengetahuannya mengenai jabatan dalam gereja, ketika ditanya tentang apa yang menjadi tugas dari Penatua, si katekisan ini menjawab dengan penuh kepolosan:

bahwa  “tugas penatua adalah duduk di bangku paling depan dalam setiap kebaktian”.

Cerita diatas hanyalah sebuah kisah karikatural, namun (suka atau tidak) ada juga kebenaran di dalamnya, yaitu kuatnya anggapan yang mengira bahwa fungsi dan tugas Penatua itu cukup hanya sekedar duduk dibangku depan dalam setiap kebaktian.

Barangkali ada hal makruf yang dapat kita ambil hikmahnya dari kisah kelakar satiris tadi bagi kemaslahatan tugas pelayanan Penatua. Paling tidak, gurauan itu sudah “mengingatkan” bahwa fungsi dan tugas dari Pejabat Gerejawi itu tidaklah ringan,( meski jangan juga dianggap terlalu berat serta melelahkan yang membuat PENAT dan TUA), bukan perkara remeh,  urusan sepele, karena seorang Penatua diharapkan sekaligus “diwajibkan” agar dapat memelihara, merawat, menggembalakan, memberi makan, membalut luka, memimpin serta menjaga kemurnian akidah ajaran gereja.  Last but not least, Penatua diharapkan dapat mewujudkan tata tentrem gereja raharja

DIHADAPAN  TUHAN DAN JEMAATNYA

Pada akhir bulan Maret biasanya ada peristiwa penting dijemaat-jemaat dalam lingkungan GKI(W) Jabar, yaitu peristiwa peneguhan Penatua. Akta peneguhan itu berlangsung dalam kebaktian minggu yang suasananya agak berbeda (specially), terasa lebih khidmat, lebih takzim, karena ada pernyataan sikap iman dari para calon Penatua  dalam wujud pengakuan “dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya”, bahwa menjadi Penatua itu adalah karena Tuhan sendiri yang memanggil mereka, lalu adapula penumpangan tangan oleh Pendeta yang secara simbolis menyatakan berkat serta penyertaan Tuhan bagi Penatua dalam mengemban tugas panggilannya.

Melihat tatacara peneguhan dengan segala kekhusyukannya serta muatan makna yang dalam tadi, maka tidaklah salah jika dikatakan bahwa Penatua itu adalah jabatan gerejawi yang penting sekaligus pula menuntut tanggungjawab yang besar, seperti yang dapat kita baca dalam Kisah Para Rasul 20:28; I.Timotius 3:1-7; Titus 1:7-9 yang penjabarannya dalam ketentuan-ketentuan organisatoris gerejawi dapat kita temukan dalam Tager, Tatib dan Talak GKI.

DARI AJARAN SAMPAI POPULARITAS

Mengingat tugas dan peran Penatua yang demikian penting maka dalam proses pemilihan calon Penatua ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

Kualifikasi dari presbuteros (Penatua) termaktub dalam Titus 1:5-9 :Tidak bercacat,  tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah.

Yang mempunyai satu istri, yang anak-anaknya hidup beriman, yang suka memberi tumpangan,  suka akan yang baik, dapat menguasai diri,  bijaksana, adil dan saleh, yang berpegang pada perkataan yang benar, sesuai ajaran sehat, supaya ia sanggup menasehati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.

Tekanan diletakkan atas sifat moral dan etika, berbarengan dengan ketaatan pada berita Injil dan kesanggupan mengajarkannya dengan baik.

Segi-segi kesiapan iman (kesadaran akan tugas panggilan Tuhan), kesiapan teologis dan ajaran (kualitas spiritual, sikap iman yang sesuai dengan dasar, azas dan tujuan GKI), kesiapan pengenalan medan pelayanan (mempunyai orientasi pengetahuan tentang jemaat), kesiapan mental (memahami arti pelayanan dengan segala konsekwensi pengorbanannya). Bahkan popularitas calonpun ikut menjadi segi kesiapan yang dipertimbangkan (cukup dikenal oleh anggota jemaat).

Kemudian setelah proses pemilihan calon rampung, sebelum Penatua memasuki tugas pelayanannya masih dibekali dengan pembinaan yang disebut “Bina Penatua” yang dimaksudkan agar Penatua dapat mengemban tugasnya dengan baik dan supaya pelayanannya nanti dapat menjadi berkat.

Topik atau materi dalam Bina Penatua ini biasanya hanya menyangkut hal-hal praktis mengenai pengenalan tentang tugas panggilan gereja dan sasaran pelayanan, cara kerja yang baik didalam melayani serta seluk beluk yang terkait dengan organisasi.

Dengan melihat materi serta topik pembinaan yang ada, rasanya masih ada sesuatu yang kurang, karena pembinaan, idealnya bukan melulu hanya perihal organisatoris dan operasional saja, namun perlu juga membekali Penatua dengan “Bina Pengetahuan Alkitab dan Teologi” yang diberikan secara praktis, sistematis, kritis apologetis aktual dan populer.

Dari hasil diskusi mengenai hal-hal disekitar kompetensi Penatua dalam konven Penatua se-Klasis Cirebon di Linggarjati-Kuningan 7-8 November 1997, juga disebutkan bahwa selain mempunyai “Ketrampilan Standar” pengetahuan berorganisasi (memahami tugas-tugas liturgi, penggembalaan, hubungan dengan masyarakat, komunikasi yang baik dengan jemaat), Penatua juga sangatlah diharapkan punya “Ketrampilan Lebih” dalam hal pengetahuan Alkitab dan teologi (kemampuan membawakan renungan, khotbah, konseling, pembinaan aktivis jemaat dan seterusnya). Kesadaran akan pentingnya melengkapi dan memberi bekal pengetahuan Alkitab dan teologi bagi Penatua perlu mendapat perhatian serius, demi gereja, demi mutu pelayanan dan demi peningkatan kualitas SDM GKI Jabar yang dalam “bahasa Visi 2003” dikatakan : “perlu diasah terus-menerus untuk mencapai tingkat excellent menuju kesempurnaan sebagai alat penyalur berkat Tuhan yang efektif bagi seluruh pemercaya GKI Jabar “.

HUJAN ANGIN, BATUK PILEK, VIRUS DAN IMUNISASI

Pembinaan yang utuh serta sinambung memang perlu agar Penatua mampu berapologia memberi pertanggungjawaban iman yang diyakininya, mampu membentengi akidah terhadap tantangan baik yang datang dari luar maupun yang muncul dari dalam.

Sebagai gereja arus utama (mainline Churches) sebenarnya tidak sedikit tantangan yang dihadapi GKI Jabar, barangkali tidak salah jika diibaratkan seperti orang sedang berjalan ditengah cuaca yang kurang bagus, hujan dan banyak angin, sementara tubuh sedang menderita batuk pilek.

Yang dimaksudkan tantangan dari luar adalah tantangan yang datang dari berbagai buku (dari karya Achmad Deedat sampai Injil Barnabas)  serta sejumlah literatur yang merupakan serangan terhadap iman Kristiani.

Sedang yang dimaksudkan dengan tantangan yang muncul dari dalam adalah baik yang datang dari kubu FUNDAMENTALIS dengan pandangan infallibility, innerancy, bibliolatry dan seterusnya, maupun yang datang dari kubu LIBERAL  dengan pandangan demitologisasi, kritik historis, kritik sumber dan seterusnya.

Virus akidah memang banyak tersebar disekitar kita , namun virus itu baru bisa jadi penyakit kalau saja tubuh kita lemah, nah supaya tetap sehat walafiat ditengah gempuran tadi, tentu saja diperlukan imunisasi yang berupa pembinaan seperti yang disebutkan diatas.

Agaknya memang tidak tertutup kemungkinan bahwa ada juga Penatua yang mempunyai pengetahuan cukup lumayan mengenai masalah-masalah iman, Alkitab, teologi, kemasyarakatan dan kegerejaan sekalipun tidak belajar teologi secara formal, tapi hanya secara otodidak. Namun cara ini sangatlah terbatas, bahkan nyaris langka, karena dibutuhkan minat yang serius, disiplin yang tinggi, mau belajar dan tidak merasa pintar, kemudian diperlukan pula tersedianya buku-buku atau kompilasi bacaan lainnya yang cukup komprehensif.

Barangkali tidak banyak Penatua yang diberi :”Karunia Talenta Spesial” seperti itu, kecuali bila mau dengan tekun melakukan “tapa brata” seperti tokoh Ekalaya dalam wiracarita Hindu Maha Bharata yang walaupun tidak pernah belajar secara formal dari sang mahaguru Begawan Durna (satu-satunya guru di kerajaan Hastina,  Kurawa dan Pandawa adalah murid-muridnya), tetapi dapat menguasai ilmu kesakten yang cukup mumpuni bahkan jauh diatas ilmu yang dimiliki  oleh para murid Durna. Dan soal ini pula yang membuat Durna tidak sejahtera, (karena melihat kesakten orang pinggiran  yang bukan muridnya), kemudian mencari akal untuk mengeliminasi Ekalaya dengan memotong ibujarinya.

Didalam pelayanan gereja kita seharusnya bersyukur jika ada sosok seperti Ekalaya, bukan malah bersikap seperti “pakem” wayang dalam kisah yang disebutkan diatas.

INI NATAL, ITU ULANG TAHUN BUDI

Yohanes Ang

A

da hal menarik mengenai ucapan Selamat Natal di satu media cetak, yang mengatakan: Jika ada seorang non-Kristen yang tidak mengucapkan “Selamat Natal” kepada kawannya yang beragama Kristen,  sikapnya itu lebih dibentuk oleh alasan logis semata, bukan ideologis.

Karena Natal itu jarig atau birthday, maka kalau toh mau disampaikan sebagai ucapan, harus langsung disampaikan kepada yang bersangkutan. Misalnya: bila yang berulang tahun si Budi, maka bukan pada tempatya kita mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepada pacar si Budi, adik si Budi atau tetangga si Budi. Dengan kata lain yang dimaksud oleh si penulis dalam media cetak tadi adalah:“Jika Yesus yang berulang tahun  maka tidaklah tepat ucapan Selamat Natal itu disampaikan kepada orang Kristen.”

Mudah-mudahan orang yang mempersoalkan perihal ucapan Selamat Natal tersebut tidak sedang berkelakar, tapi hanya   karena kekurang-pahamannya saja tentang makna Natal, dan itu tentunya bisa dimaklumi.  Bagi orang yang berada diluar   komunitas Kristiani memang sulit untuk bisa membedakan antara “kemeriahan Natal” dengan “makna Natal,”karena hanya melihat kemasan-nya saja tanpa merasakan isinya. Apalagi melihat sikon yang dirasakan kasatmata, Natal diadakan dengan semarak tapi seringkali mengabaikan aspek sakral dan teologisnya, Natal menjadi semakin profan dan hampir mirip dengan pesta ulang tahun. Itu soalnya, mengapa ada anggapan bahwa Natal itu hanya sekedar bayi Kristus yang berulang tahun. Untuk mengubah kesalah-pahaman menjadi kesaling-pahaman memang bukanlah perkara mudah, sebab menyangkut juga perbedaan “penafsiran bahasa”  yang berawal dari Menara Babil.

Ada kelakar orang Turki yang mengatakan, perselisihan orang Israel dengan Arab di selatan negerinya, bukan karena hak Istri-istri  Abraham, Sarah dan Hagar, yang melahirkan Ishak dan Ismail, nenek moyang orang beriman itu; melainkan karena “dudaim.” Orang Yahudi menyebutnya “apel cinta”; sedangkan orang Arab menyebutnya “apel benci.” Berselisih soal bahasa dan arti tafsirnya bisa saja terjadi.

God dank, Pisang atau Pepaya

Di Solo, misalnya, ada Tambak Segaran. Dalam bahasa Jawa “tambak” adalah empang tempat ternak ikan, dan “segaran” berasal dari kata “segara” yang artinya “lautan.” Orang yang tidak tahu letak geografis kota Solo, pasti akan mengira bahwa Solo adalah kota pantai. Padahal disitu tak ada “segara”(laut). Konon awal mulanya, disitu dulu berdiri toko Belanda yang menjual “tabak” (tembakau) dan “sigaren” (rokok).

Ada satu cerita utak atik gatuk lagi yang bertalian dengan urusan perut, bahwa bahasa Jawa “gedang” itu berasal dari bahasa Belanda. Konon ceritanya ketika itu sepasukan tentara Belanda terpisah dari induknya dalam peperangan yang berlangsung di Jawa Tengah pada tahun 1825-1830. Berhari-hari mereka tidak makan. Ketika melintasi suatu lembah, akhirnya mereka tiba disebuah perkebunan pisang. Saking girangnya mendapat makanan, mereka mengucapkan syukur dalam bahasa Belanda, “God dank,” yang artinya “terima kasih Tuhan,” kemudian orang Jawa mengucapkannya jadi “gedang,” yang artinya pisang. Repotnya dalam bahasa Sunda, gedang itu berarti “pepaya,” mudah-mudahan saja orang Sunda tidak membuat versi lain tentang tentara Belanda yang mengucapkan “God dank” demi pepaya.

Dan hampir bisa dipastikan, jika saja kata gedang ini dibawa dalam PMK Klasis Cirebon, maka antara “utara” (GKI Indramayu, Jatibarang, Cirebon)  dengan “selatan” (GKI Tasikmalaya, Banjar, Ciamis)  tidak mungkin akan tercapai kata sepakat dalam menafsirkan arti gedang.

Kembali ke soal ucapan selamat Natal, Pdt. Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Natal” (BPK Gunung Mulia, 1981), memberi jawaban yang sangat bagus disertai argumentasi yang cerdas tentang apa alasannya mengucapkan selamat Natal.

Pertama-tama beliau menjelaskan bahwa arti selamat secara kamus adalah terpelihara dari bencana, seperti misalnya: Si Badu hampir tertabrak bis. Nyaris ia tewas. Akan tetapi, ia luput. Lalu dikatakan: ia selamat Bukankah demikian juga yang terjadi dengan manusia? menurut Mazmur 14 dan Roma 3, semua orang telah menyeleweng,  semuanya telah bejat, tidak ada yang benar, seorangpun tidak.  Selanjutnya Pdt.Andar mengatakan: manusia ibarat tenggelam dalam lumpur dan tidak dapat menyelamatkan dirinya, lalu Allah bukan menurunkan tangga, bukan pula memberi petunjuk bagaimana menyelamatkan diri, melainkan “mengutus AnakNya kedalam dunia untuk menyelamatkannya”(Yoh.3:17). Itulah Natal. Yesus datang sebagai Juruselamat. Ia menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Manusia jadi selamat. Sabda Ilahi turun dari surga dan menjadi manusia demi keselamatan kita.

Natal = Mysterion

Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah ( Yunani:  en arche en ho logos,  kai  ho logos en pros ton theon, kai theos en ho logos) Yohanes 1:1, dan Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Ibrani: We ha-Dabar nihyah Basyar, we syaken banu, we raonu et Kebodu, kabod kesyel yahid meat ha-Av, male hesed we emet) Yohanes 1:14.

Karena Firman telah menjadi manusia, maka Allah tidak lagi hadir berbareng dengan angin, badai dan kilat sabung menyabung seperti yang digambarkan dengan turunnya wahyu kepada Musa di gunung Sinai,  ketika itu ada jarak antara yang Ilahi dan insani. Tetapi dalam Kristus, surga dan bumi saling bercumbu, langit dan bumi bertemu, sebab Yesus bukan sekedar “menerima Firman Allah”  melainkan “Firman Allah itu sendiri”.

Semakin dalam kita menghayati “Natal-Nya” semakin dalam kita tenggelam dalam lautan misterinya.

Dalam bukunya yang baru terbit (Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2001, hal.617-618), untuk menjelaskan apa misteri Natal tersebut  maka Pdt. Dr.Eka Darmaputera mencoba membandingkannya dengan sakramen yang juga adalah misteri.

Menurut Pdt Eka, dalam pelaksanaan sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus, yang tampak dilakukan adalah sesuatu yang biasa. Ada orang diselamkan atau diperciki kepalanya dengan air, ada orang yang makan roti dan minum anggur, tidak ada yang luar biasa. Air yang dipakai adalah air yang biasa, bukan air ajaib. Roti dan anggur yang dipakai juga roti dan anggur biasa, yang dapat dibeli di toko-toko. Itulah “Mysterion,” bahwa dibalik apa-apa yang amat biasa itu terkandung sesuatu yang amat luar biasa. Orang-orang lain tidak menyadari dan tidak bisa memahaminya, tetapi orang yang percaya, amat memahami dan menghayati makna yang luar biasa itu. Dan oleh sebab itu sakramen mempunyai dampak istimewa dalam kehidupan orang percaya.

Natal adalah “mysterion.” Peristiwanya biasa-biasa saja:ada bayi lahir. Tetapi bagi orang percaya, apa yang biasa itu tidak biasa. Melalui kelahiran bayi yang tampak biasa-biasa saja itu, sebenarnya terjadi sesuatu yang secara radikal dan secara fundamental telah mengubah sejarah dunia dan seluruh umat manusia.

Kristus dalam Musik, Senirupa dan Sastra

Kristus memang tidak tertandingi oleh siapapun, Ia punya jumlah pengikut terbesar, Ia tidak pernah menulis buku, namun buku-buku tentang dirinya memenuhi perpustakaan dunia. Ia tidak pernah menulis tembang tetapi nyanyian dengan tema tentang dirinya jauh melebihi tema nyanyian apapun, bahkan Guido d’Arezza menemukan skala nada “ do re mi fa sol la si” dari penggalan kata-kata pujaan terhadap Yesus. Dari do tinggi, turun satu persatu nada lewat si, la, sol, fa, mi, re, dan do. Memang ada pertalian theologis yang hendak dicapai disana, maknanya: kedatangan Tuhan yang dari atas ke bawah, dari surga kedunia. Berangkat dari situ, dalam setiap kurun, para komponis menciptakan karya musik yang temanya sekitar Kasih Allah kepada manusia sehingga diturunkan-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa. Di zaman Abad tengah tampil nama-nama seperti Ambrosius, Gregorius dan Palestrina, pada zaman Barok-Rokoko tampil nama Bach dan Handel, kemudian Beethoven dan Mozart, semuanya menciptakan karya mengenai tokoh Yesus Kristus. Demikian pula senirupa, dari Michelengelo, Durer, Rembrandt, Delacroix, Salvador Dali sampai Grunewald, hampir semua pelukis besar, sudah melukiskan visi seninya tentang Yesus.

Begitu juga dikalangan sastra, ada nama-nama pengarang besar seperti: Dante, Erasmus, Kierkegaard, Dostoyevsky, TS Elliot dan masih banyak lagi. Itulah beberapa fakta yang membuat kelahiran Kristus begitu bermakna. Natal harus dipahami bukan hanya sekedar  ulang tahun Yesus, tatapi Natal adalah Firman yang turun ke dunia

Tarikh Masehi

Sekalipun kelahiran-Nya tidak dianggap istimewa karena hanya dibungkus dengan lampin dan terbaring didalam palungan

Namun peristiwa itu menjadi pusat kronologi sejarah.  Kita mengenal penanggalan umum yang dinamakan “Tarikh Masehi” atau dikalangan internasional disebut “tarikh Kristus”.

Sebelum tahun 0 (nol)  biasa disebut sebagai BC (Before Christ) atau SM (Sebelum Masehi), dan sesudah tahun  0 (nol) biasa disebut dengan nama AD (Anno Domini= Tahun Tuhan) atau kita sebut Masehi (M). Yang menarik dan perlu diperhatikan adalah tahun-tahun kelahiran para tokoh dunia, pemimpin spiritual, dan para nabi, selalu diukur dengan tahun Tuhan Yesus Kristus, “Masehi” atau “Sebelum Masehi,”  “Anno Domini”  atau “Before Christ” .

Jadi meskipun ada upaya untuk mencoba mengganti penyebutan AD dan BC ini dengan  ZB (Zaman Bersama, pengalihan dari “Common Era”) dan  SZB (Sebelum Zaman Bersama) , namun ZB dan SZB ini tidak populer, kurang dikenal luas. Dan juga walaupun Michael Hart dalam bukunya “100 TOKOH YANG PALING BERPENGARUH DALAM SEJARAH” tidak menempatkan Yesus Kristus di urutan pertama, namun kenyataan menunjukkan bahwa Yesus adalah pusat Kronologi Sejarah.

Adanya penyebutan AD dan BC, Tahun Tuhan dan Sebelum Kristus, rupanya bukanlah sekedar  kebetulan, tapi memang ada makna kebenaran sejarah dibaliknya, seperti yang dikatakan oleh Petrus, dalam Matius 16:16, bahwa Kristus itu Tuhan.

SELAMAT TAHUN BARU

Yohanes Ang

“Tak ada sesuatu yang baru dibawah matahari” Perkataan ini bisa kita baca dalam kitab Qoheleth, atau dikalangan bahasa-bahasa Eropa diterjemahkan sebagai Ecclesiastes, dan diterjemahkan secara Arab sebagai Al-Khaatib pasal 1 ayat 9

(Alkitab LAI tahun 70-an masih memakai nama Al-Khaatib yang kemudian diganti dengan Pengkhotbah)

Kata-kata bijak itu dalam tradisi Ibrani diyakini sebagai perenungan

dari sang Nabi sekaligus penyair besar Sulaiman atau Salomo, yang ditulisnya sendiri pada zaman ia memerintah sebagai raja paling bestari disekitar Palestina.

 

Dari detik sampai abad

Satuan waktu dari yang tersingkat ke yang terlama berturut-turut adalah DETIK, MENIT, JAM, HARI, MINGGU, BULAN, TAHUN DAN ABAD.

Setelah berlangsung 60 detik, satuan waktu berganti nama menjadi menit; hitungan detik berulang dari satu lagi untuk menit kedua. Hal yang sama terjadi setelah waktu 60 menit berlalu dan namanya berubah menjadi jam; hitungan menit berulang dari satu lagi untuk jam kedua.

Demikian pula halnya dengan hitungan jam setelah berlalu selama 24 jam disebut hari, jam pertama dihari kedua pun dimulai lagi.

Hal demikian juga terjadi setelah hari ketujuh; hari kedelapan adalah hari pertama di minggu kedua.

Karena satu minggu terdiri atas tujuh hari, sementara bulan terdiri dari 28 hingga 31 hari, maka pengulangan minggu untuk satuan waktu bulan biasanya tidaklah ketat digunakan.

Namun, minggu ke-53 adalah minggu pertama untuk tahun kedua, sementara bulan ke-13 adalah bulan pertama untuk tahun berikutnya itu

Itu berarti bahwa dalam setiap satuan waktu tertentu terjadi daur ulang menyangkut detik, menit, jam, hari dan bulan.

 

Maka tidaklah salah rasanya seperti apa yang dikatakan Sulaiman:

“Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat

akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru dibawah matahari”

 

“Tahun” memang sering dianggap penting Karena dihubungkan dengan ulang tahun, birthday, natal atau milad, Jemaat Arab Kristen

di Syria, Mesir, Yordania, Palestina dan kawasan Timur Tengah lainnya saling mengucapkan Idul Milad (Merry Christmas) dan menyanyikan Nasidul Milad (Lagu Natal) pada Hari Natal yang Mulia (Id al-Milad al-Majid).

 

Sebelum KRISTUS dan Tahun TUHAN

Meskipun kelahiran Yesus tidak tepat sama dengan tahun 0 (nol),

yang konon menurut perhitungan para arkeolog tidaklah persis

jatuh pada tahun pertama Masehi (Kita harus melepaskan diri dari spekulasi sejarah, karena kita tidak beriman pada Yesus yang historis, tapi Yesus yang dogmatis, Yesus yang melampaui dimensi ruang dan waktu). Namun secara umum telah dipertahankan berabad-abad, dan secara international disepakati bahwa dasar perhitungan Masehi adalah dari kelahiran Kristus.

Awal perhitungan tahun masehi ini dihitung sejak kelahiran Yesus.

Pada umumnya setiap bangsa didunia ini punya “penanggalan”nya masing-masing, ada tahun Saka, tahun Imlek dan yang lainnya, tetapi tarikh-tarikh itu tidak digunakan secara umum, sedangkan tarikh Masehi atau tarikh Kristus dipakai dikalangan internasional, lintas Negara, lintas bangsa.

Semua sepakat bahwa sebelum tahun 0 (nol) disebut BC (Before Christ) atau SM (Sebelum Masehi), dan sesudah tahun 0 (nol) biasa disebut dengan nama AD (Anno Domini= Tahun Tuhan) atau           M (Masehi).

Yang menarik dan perlu diperhatikan adalah bahwa tahun-tahun kelahiran para tokoh dunia, para nabi, pemimpin spiritual, dan siapapun juga, selalu diukur dengan tahun Tuhan Yesus Kristus, Masehi atau Sebelum Masehi, AD atau BC.

Alhasil, walaupun Michael Hart dalam bukunya “100 Tokoh yang paling berpengaruh dalam Sejarah” tidak menempatkan Yesus Kristus diurutan pertama nomor wahid, namun realita faktual menunjukkan bahwa Yesus Junjungan kita itu adalah pusat kronologi sejarah.

 

Adanya penyebutan AD dan BC, Tahun Tuhan dan Sebelum Kristus, nampaknya bukanlah sekedar kebetulan, tapi memang ada makna kebenaran sejarah dibaliknya, seperti yang dikatakan oleh Rasul Petrus dalam Matius 16:16: bahwa KRISTUS ITU TUHAN.

 

Menyongsong fajar 2004

Hampir bisa dipastikan bahwa dirumah kita mempunyai Album foto,

dan sudahkah kita memeriksa dengan teliti  apa isi album foto itu ?

Pada umumnya Isinya adalah rekaman peristiwa-peristiwa yang mengesankan bukan ? misalnya foto pernikahan, foto anak-anak kita waktu bayi, foto2 Natal, pose yang nyaris bak foto model, foto-foto jenis itulah yang kita simpan sebagai kenangan.

Begitulah manusia pada umumnya, Cuma mau menyimpan yang manis manis dan tampil mejeng keren.

Sudah pasti tak akan ada foto ketika sakit gigi, atau foto ketika kepala nyut nyut dan koyo ditempel dimana-mana.

Kenangan pahit memang tak perlu kita simpan terlalu lama, wajah kita dengan air muka mecucu merengut  dan dahi berkerut juga tak perlu dipajang dihalaman depan.

Namun demikian, sisi itu juga jangan kita lupakan, sebab yang buruk- buruk itu adalah bagian dari hidup kita juga. Kita harus banyak belajar dari pengalaman itu serta berupaya agar tidak terulang lagi. jika keledai terperosok kedalam lubang itu tragedi, namun jika terperosok  kedua kalinya dilubang yang sama, itu komedi, dari badut yang tidak lucu.

 

Mari kita sambut tahun 2004 dengan keyakinan akan adanya peran dan campur tangan Tuhan yang menyertai kita ,providentia Dei, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini, Kita pertahankan yang lama yang baik, seraya mencari yang baru yang lebih baik.

Indramayu 2004 sudah pasti jauh berbeda dengan Indramayu tahun-tahun 70-an atau 80-an, di tahun ke-4 abad 21 ini terjadi perkembangan yang cukup pesat diberbagai sektor kehidupan masyarakat, kita perlu merumuskan sikap ditengah-tengah masyarakat yang pluralis ini.

Dalam menyongsong hari esok, menatap masa depan, yang diperlukan adalah bukannya paradigma lama yang kolot kaku dan rigid, atau bahkan yang lebih parah : Anakronistik, hidup dengan angan-angan basi yang tidak pas lagi dengan zaman kini.

Kita tinggalkan tahun 2003 ini dengan bersukacita senantiasa, tetap berdoa, dan mengucap syukur dalam segala hal.

Kita songsong fajar 2004 dengan tidak terseok-seok langkah, tergagap-gagap, tergugup-gugup, namun dengan kepala terangkat dan hati bertobat. Selamat Tahun baru 2004.

 

 

VITALNYA AYAT FATALNYA HUJAT

Perlu saya tekankan bahwa apa yang dikatakan oleh pemandu acara tadi bukan promosi tapi barangkali Cuma pemasaran, meski saya jadi merasa jengah  karena harus menanggung beban berat , tergagap-gagap tergugup-gugup karena saya kuatir jangan-jangan saudara akan kecewa setelah melihat sosok Yohanes Ang itu orangnya nggak berbobot.kurang dari 50 kilo, Kecil, kurus.

Terus terang saya akui bahwa memang saya kurus tapi tidak mengkhawatirkan organisasi kesehatan dunia, walau keadaan jasmani di usia yang tidak tergolong muda lagi ini agak mulai bermasalah, namun keadaan rohani justru  semakin mantap, semakin arif,  semakin bijak bestari.

Saudara2 maafkan saya jika diawal tadi saya tidak menyapa saudara-saudara dengan sapaan  kekristenan  yang biasa diucapkan dalam kesaksian dan pelbagai kegiatan gereja lainnya, yaitu: SAPAAN SYALOM yang belakangan ini kayaknya lagi ngetrend, banyak yang menggandrunginya sebagai prayojana gaya hidup isyarat penampilan fisik agamawi.

Saya tidak mengucapkan itu sebab menurut  saya sapaan salam sejahtera rasanya lebih akrab, lebih afdal, lebih membumi lebih indonesiawi, ketimbang SYALOM yang lengkapnya Syalom alaikehm besem hamasia yang berkesan amat sangat Yahudi banget gitu lho.

Tapi ini bukanlah berarti saya anti Syaalom, maksud saya mau pakai syalom boleh, tanpa syalom juga bukan dosa, sama halnya dengan surga yang tidak ditentukan oleh tepuk tangan atau tidak tepuk tangan.

BAIK, DALAM KESEMPATAN INI SAYA INGIN MENYAMPAIKAN KESAKSIAN

PERIHAL APA YANG PERNAH SAYA ALAMI.

DENGAN SEJUJUR-JUJURNYA, SEBENAR-BENARNYA, DAN JUGA TIDAK MENAMBAHKAN AJINOMOTO YANG TERLALU BANYAK.

Saudara-saudara  saya tidak akan bersaksi perihal perkara-perkara besar, prestasi-prestasi rohaniah yang menunjukkan kejemawa-jemawaan rohani, keperlente-perlentean gerejawi dimana salib keliru dipikul  seraya berharap pujian, tapi saya ingin membagikan kesaksian tentang kerohman rahimian Tuhan, kesaksian  sederhana yang jauh  dari hal-hal fantastic, namun punya harga ketulusan.

Ada 2 kesaksian yang ingin saya sampaikan:

1. VITALNYA AYAT FATALNYA HUJAT

2. PASRAH BERSERAH KEHENDAKMU JADILAH

Saya mulai dari yang pertama:

Saudara-saudara sebenarnya saya ini orang yang paling suka humor, bagi  saya barangkali tiada hari tanpa guyon, dan hidup tanpa gurauan rasanya ibarat sayur zonder vetsin.

Arkian, 26 tahun yang lalu, tahun 1980, tanggal dan bulannya saya lupa, ( memang satu peristiwa lama namun dijamin tidak basi, karena saya menyampaikannya bukan dengan basa-basi tapi dengan basa-segar ) ketika sedang asyik ngobrol dengan teman2 segereja di Pos  Jemaat Losarang. Seperti biasanya selalu

ada saja guyonan yang saya lontarkan. Waktu  itu saya ambil dari ayat Alkitab yang LUKAS 11:9  MINTALAH MAKA KAMU AKAN DIBERI, CARILAH MAKA KAMU AKAN MENDAPAT, KETOKLAH  MAKA PINTU AKAN DIBUKA………….

Ayat ini kemudian saya sambung  BUKALAH PINTU MAKA MALING MASUK.

Dan setelah itu  apa yang terjadi?  Kontan besoknya rumah saya benar-benar dimasuki pencuri, ada maling masuk mengambil banyak barang-barang saya, bahkan sampai masuk kedalam kamar tidur saya mengambil sandal dikolong tempat tidur.

Saat itu saya sadar bahwa Tuhan tidak berkenan atas kelancangan saya main-main dengan ayat Alkitab. Tuhan menegur dan menjewer saya.

Saudara peristiwa itu benar-benar mengingatkan saya untuk tidak main-main dengan Kalam Tuhan, karena Firman Tuhan itu bukan barang mainan.

Meskipun Alkitab bukanlah sebuah buku yang turun dari langit, sebagaimana pemahaman fundamentalistik yang literal, harfiah, namun Alkitab ini DIILHAMKAN ALLAH, bukan buku biasa tapi buku luar biasa yang mampu merubah orang yang membaca serta menghayatinya, dari laknat jadi taat, dari bedebah menjadi bertobat.

Kita jangan jadikan Alkitab sebagai jimat, tapi kita juga jangan menghujat.

FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku

Saudara-saudara dapat belajar dari apa yang pernah saya alami itu, untuk tidak mengikutinya.

KESAKSIAN YANG KEDUA:

PASRAH BERSERAH KEHENDAKMU JADILAH

Mungkin diantara saudara sudah tahu bahwa kami  dikaruniai Tuhan 2 anak perempuan

dan 1 anak laki-laki.

Anak yang pertama : NOVI  ANGELIN CHRISTIANI,                                                         anak yang kedua: HANSEN ANGGRIAWAN, yang hanya 3 tahun hadir ditengah keluarga kami, lahir tahun 1991  dan pada tahun 1994  Tuhan ambil kembali.              Anak kami yang ketiga: ASPRILLIA YOHANNA CHRISTIANI, si  bungsu yang

sekarang bersekolah di SD BPK PENABUR  INDRAMAYU.

NOVI Anak pertama sekarang kuliah di Fakultas Psikologi pada satu Universitas di Jakarta.

Ada  yang menanyakan pada saya Pak Yohanes kenapa anaknya tidak dimasukkan ke

Sekolah Teologi saja, tapi Psikologi?

Menjawab pertanyaan tadi saya mengatakan: sebagai orang tua tentu saja saya tidak bisa dan tidak baik memaksakan kehendak, terserah anak, pilihannya apa.

Itu alasan pertama, dan alasan kedua: anak saya kelihatannya kurang berminat kesitu,

karena teologi itu ilmu yang berat, berbeda dengan psikologi.

PSIKOLOGI adalah ilmu terbatas yang hanya mengamati meneliti tingkah laku manusia

Sedang TEOLOGI adalah ilmu yang mengamati meneliti tingkah laku Tuhan.

Maaf, alasan yang kedua tadi hanya gurauan saja.

Baik, sekarang saya ingin bicara tentang anak saya yang kedua, Hansen, yang  saya angkat dalam kesaksian ini.

20 Mei 1994, saudara, ditengah kebahagiaan keluarga kami mendadak muncul awal dari

petaka yang sangat tidak kami harapkan, Hansen suhu badannya panas tinggi dan seringkali disertai kejang.

Akhirnya langsung saya bawa ke Rumah Sakit BOROMEUS di Bandung untuk memperoleh perawatan.

Sesampainya di rumah sakit kemudian dilakukan tindakan emergency sebagaimana

lazimnya, seperti pemberiaan oksigen, infus, pemasangan sonde serta tindakan medis lainnya.

Berhari-hari Hansen tidak sadar, keadaan umumnya makin lama makin menurun,

Saya dan istri yang menungguinya di rumah sakit hanya bisa menangis dan berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan anak kami.

Saudara-saudara ketika diambil tindakan lumbal fungsi oleh dokter, yaitu mengambil cairan sumsum tulang belakang, kami berdua benar2 tak tega mendengar tangisan Hansen

yang begitu memilukan dengan disertai jeritan lirih yang tertahan-tahan menahan sakit,

hati ini rasanya seperti tersayat pedih  saudara, saya mulai berontak memprotes Tuhan,

Tuhan Yesus mengapa ini harus terjadi pada anak saya, kenapa bukan saya saja orang tuanya yang harus menanggung azab ini, apa dosa anak saya yang masih belum bisa mem

bedakan perkara baik dan buruk, hitam dan putih, benar dan salah, tapi harus menanggung sakit seperti itu  saya bersedia untuk menggantikan apa yang diderita anak saya Tuhan.

Saudara, kemudian dokter memberitahu saya  bahwa dari hasil pemeriksaan Computerised Tomografi atau CT SCAN disana ditemukan adanya jejak virus toxoplasmosis yang sudah lama menginfeksi otak bagian GANGLIA BASALIS, dan hasil diagnosanya penyakit yang diderita Hansen adalah HALERFONDENSPAT DISEASE, satu penyakit unik yang kasusnya jarang ditemukan, agak mirip tapi lebih dahsyat dari penyakit PARKINSONnya petinju Muhammad Ali.

Lalu dokter yang merawatnya menyarankan pada saya agar sebaiknya pindah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina di JAKARTA, karena disana katannya ada seorang dokter akhli bedah otak, Prof. Satyanegara.

Hari itu juga Hansen kami pindahkan dari Boromeus ke RS Pusat Pertamina di Jakarta.

Dan saudara, setelah hampir satu bulan dirawat disitu ternyata tidak ada kemajuan apa-apa, anak kami masih tetap  dalam kondisi koma.

Saudara, tidak banyak yang bisa kami lakukan, kecuali hanya menangis dan berdoa pada

Tuhan mengharap kesembuhan atas anak kami.

Dua bulan sudah kami selalu tidur bergantian didalam mobil yang dparkir dihalaman Rumah  sakit.

Selama 2 bulan di Rumah Sakit saya banyak belajar dari pemandangan silih bertukar yang terekam di selaput jala mata saya akan  rahasia kehidupan manusia.

Ada yang pulih dan pulang, ada yang datang dan tinggal, serta tak sedikit yang sekedar

menumpang lantas berpulang.

Kemudian saudara,  saya mendengar bahwa di Rumah Sakit Harapan Kita Grogol dekat

DHARMAIS disana ada peralatan baru namanya MRI (MAGNETIC  RESONANCE IMAGING)

yang konon dapat melihat lebih detail tentang otak ketimbang  CT SCAN konvensional.

Diidorong oleh keinginan agar anak kami bisa sembuh, maka kami pindah lagi dari Rumah Sakit Pusat Pertamina ke Rumah Sakit Harapan Kita.

Di Harapan Kita Hansen masuk ruang ICU, dan saudara, di ICU berbeda dengan dikamar

Rawat biasa, disitu hanya  boleh ditunggu diluar  dan hanya bisa dijenguk setiap jam bezook saja,

Atau kalau kami rindu ingin melihat Hansen, itu bisa dilihat dari balik kaca.

Saudara, jika saya menitikkan air mata itu bukan air mata telenovela, tapi benar-benar merupakan ekspresi kepedihan dari lubuk hati yang paling dalam

Saudara, ada hikmah yang bisa saya dapatkan di ruang tunggu ICU, dimana disitu berkumpul segala macam orang, dari berbagai latarbelakang, baik suku, etnis maupun keyakinan, campur aduk  antara wong sugih wong melarat, wong goblok wong pinter, dimana perbedaan sudah tidak ada artinya lagi,  benar-benar kebhinekaan yang sejati, semuanya tidur beralaskan tikar.

Dalam situasi seperti itu orang yang belum saling mengenal sekalipun akan bisa saling merangkul dan menangis bersama untuk saling berbagi penderitaan.

Semuanya yang ada disitu diikat oleh keprihatinan yang sama akan kesakitan seseorang

yang mereka kasihi, entah itu anak, orang tua, saudara atau teman.

Tampak ada suasana kebersamaan yang begitu polos dan tulus, saling menyapa, saling

mengasihi, saling peduli, dan itu terjadi di ruang tunggu BAGIAN PERAWATAN INTENSIF dalam Rumah Sakit.

Bagaimana dengan suasana di Rumah Tuhan, yang punya ruang tunggu bagi orang yang

mengharapkan kesembuhan iman?

Apakah suasananya lebih baik dari ruang tunggu ICU atau malah mungkin sebaliknya.

Jika lebih baik, itu memuliakan, tapi jika sebaliknya itu memalukan.

Karena eklesia seharusnya dilengkapi dengan nurani, agar kasih yang melayani itu

bukan hanya slogan yang tak jelas akurasi maknawinya, tapi benar-benar terjadi secara konkrit, ada kebersamaan, ada kesehatian, saling peduli, saling mengasihi seraya menepis

sindiran bahwa Protestan itu anak manis diluar gereja, tapi anak nakal didalam gereja.

Dengan kasih yang melayani maka orang akan betah dan butuh Rumah Tuhan seperti orang sakit parah membutuhkan ruang ICU.

Saudara, setelah hampir 20 hari dirawat di ruang ICU, PUJI TUHAN mulai tampak ada

tanda-tanda kearah yang lebih  baik, kesadaran Hansen berangsur-angsur pulih dan mulai dapat mengenali papi dan maminya, dan 2-3 hari kemudian dokter membolehkan kami

membawa Hansen pulang ke rumah.  Saat itu kami benar-benar merasa sukacita, ada ceria batin yang berpengharapan, meskipun belum sembuh total tapi kami sekeluarga bahagia sekali rasanya, kami selalu menaikkan mazmur syukur bagi Tuhan.

Namun saudara hal itu berlalu terlalu cepat, setelah 40 hari berada dirumah, mungkin karena kesadarannya sudah makin membaik, Hansen merasa risih dengan slang plastic

Sonde untuk memasukkaan makanan melalui lubang hidungnya.

Tanpa sepengetahuan kami dan juga pembantu yang menjagainya, slang sonde itu lepas, ditarik keluar. Tentu saja ini menjadi masalah, karena Hansen masih belum bisa dikasih

makanan lewat mulut. Dan kemudian saya minta bantuan dari seorang perawat Rumah Sakit, untuk memasang kembali sonde itu.

Tapi apa yang kemudian terjadi saudara rupanya cara kerja si perawat tadi kurang professional, slang sonde yang dimasukkan kelewat panjang sampai menusuk gaster atau dinding lambung dan menyebabkan perforasi, luka robek pada lambung , Hansen kemudian muntah darah segar berkali-kali dengan disertai panas yang tinggi.

Kemudian langsung dibawa ke Cirebon, karena Jakarta terlalu jauh, saya pilih yang dekat supaya bisa segera mendapatkan pertolongan.

Pukul 21.00 masuk Rumah Sakit Gunung Jati, langsung ditangani oleh dokter, ternyata pertolongan yang diberikan tidak berhasil, Hansen tidak bisa diinfus karena pembuluh darahnya kolaps akibat pendarahan yang terus-menerus.

Saudara ketika tangan manusia, tangan dan upaya dokter tak lagi mampu melakukan apa-apa, saat itu kami takut kehilangan Hansen, kondisi paling buruk yang kami hadapi saat itu benar2 membuat diri serasa dihimpit beban berat, seperti anak domba malang yang terlempar kedalam ngarai gelap hitam dengan ketiadaan jalan kelepasan.

Lewat tengah malam  kira-kira Jam 01 Tuhan mengambil nyawa Hansen,  coba saudara

bayangkan bagaimana perasaan hati  dan pikiran kami melihat buah hati yang terbujur  kaku tak bernafas lagi.

Disitu saya marah kepada Tuhan,                                                                                   Tuhan Yesus saya tidak bisa menerima ini, kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi

Kenapa  Hansen harus mati, saya dan istri saya menjerit menangis meratapi  kematian  Hansen.

Tuhan Yesus Engkau berkuasa, orang mati engkau bangkitkan, orang lumpuh berjalan,

Orang buta melihat, kenapa anak kami tidak engkau sembuhkan?

Mana janjimu yang mengatakan bahwa umatMu meskipun jatuh tidak akan tergeletak,

saya tergeletak kenapa Tuhan diam, saya tidak kuat lagi Tuhan.

Tuhan ternyata bukan hanya Maha Kasih tapi juga Maha Kejam, sadis dan semena-mena.

Saat itu saya menjadi seperti orang kurang waras saudara, kata-kata hujat tadi tanpa sadar

keluar dari mulut saya.

Dan ditengah isak tangis itu saudara, saya teringat akan kisah Raja Daud  yang mendadak  sontak muncul  dalam ingatan saya.

Ketika anaknya sakit, Daud berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anaknya mati Daud

Bangun tidak menangis lagi dan makan.

ketika ditanya oleh pegawai-pegawainya mengapa Daud melakukan itu, Daudpun

Menjawab: selagi anak itu masih hidup ia berpuasa dan menangis, memohon pada Tuhan agar anaknya tidak mati, tetapi setelah anaknya mati Daud berserah pasrah dengan ikhlas.

‘AKU AKAN PERGI KEPADANYA, TETAPI IA TIDAK AKAN KEMBALI LAGI”.

Kisah ini merupakan terapi yang mujarab bagi saya, membuat saya sadar bahwa yang sudah meninggal tak kan bisa kembali lagi.

Dan saudara Kalam Tuhan yang termaktub dalam Yosua 8:8 memberikan kekuatan serta

Penghiburan bagi kami:

“TIADA SEORANGPUN BERKUASA MENAHAN ANGIN DAN TIADA SEORANGPUN BERKUASA ATAS HARI KEMATIAN”.

Ayat ini seakan suara Tuhan sendiri  yang manis dan lembut sebagai penghiburan dan kekuatan bagi kami.

Saudara ketika airmata dipipi belum lagi kering , kembali keluarga kami diterpa kesedihan, hanya 23 hari setelah kematian cucunya, ayah yang kami kasihipun pergi meninggalkan kami.

Papa  meninggal secara mendadak di usia 66 tahun  dengan tanpa ada tanda-tanda sakit

atau menderita penyakit sebelumnya, jam 10 malam kami masih sempat ngobrol dan nonton TV bersama, dan ayah kami masih terlihat sehat.

Pukul 4.30 dini hari, papa mengeluh sesak nafas, kemudian papa berkata: rasanya saya

sudah tidak kuat lagi, Dan saya menjawab tidak papa, papa harus hidup, kami masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan papa.

Kemudian kami mengajak papa berdoa, dengan suara lirih saya masih sempat mendengar

Papa menyebut nama Tuhan Yesus, dan ini merupakan detik-detik terakhir dalam kehidupannya

Peristiwa ini berlangsung cepat, papa berpulang dalam posisi duduk dan tangan terlipat,

Berdoa.

Meski semasa hidupnya ayah kami belum tercatat sebagai anggota jemaat gereja, namun

disaat-saat terakhir ayah menutup mata dengan berpengharapan akan kepastian keselamatan dari Tuhan Yesus.

Sunnguh luar biasa dan manis saudara, seperti yang tertulis dalam Kitab Wahyu:

Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, supaya mereka boleh beristirahat dari jeri lelah mereka”

Itulah apa-apa yang pernah saya alami, yang saya sampaikan dalam kesaksian saat ini

Ibarat sebuah novel yang tidak berakhir dengan “HAPPY ENDING”, bukan kesaksian tentang mujizat dahsyat yang turun dari langit, bukan kesaksian fantastis spektakuler

Perihal kesembuhan Ilahi, Kesuksesan materi,  atau naik jabatan ke posisi penting dan seterusnya.

Namun kesaksian ini adalah kesaksian tentang penyerahan diri, dan mempersilahkan tangan Tuhan bertindak  dan kehendaknya berlaku dengan leluasa

Kiranya kesaksian saya tadi dapat menguatkan kita, walaupun akhir dari apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kehendak dan harapan kita. Namun justru kita boleh belajar seperti Paulus bahwa di dalam kelemahan kita, maka kuasa Allah semakin sempurna.

Di dalam segala sesuatu yang terjadi (walaupun tidak sesuai dengan keinginan kita), kita masih tetap dapat melihat kasih dan kebaikan Tuhan yang tetap memelihara kehidupan kita.

Kesedihan memang ada, namun di dalam kesedihan yang terjadi, kita dapat melihat bahwa kasih Tuhan tetap dinyatakan, karena Tuhan tidak akan membiarkan kita menghadapi kegetiran nestapa dengan tanpa sedikitpun penghiburan, Tuhan memberikan saya dan keluarga Keteguhan iman, kedamaian dan keikhlasan dalam jiwa

Dimana air mata dukacita akan kering, dan mata air sukacita akan mengalir.

Setiap saat saya mensyukuri anugerah yang diberikan Tuhan, itulah energi yang menggerakkan kreatifitas saya dalam memberikan perpuluhan talenta baik berkat maupun bakat yang sudah Tuhan berikan pada saya.

Itu merupakan ibadah saya yang tak kunjung henti, saya jalani kehidupan ini dengan kepala terangkat namun hati bertobat.  AMIN.

TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA.

Disampaikan sebagai Kesaksian dalam acara Malam Puji dan Sabda                         GKI Indramayu Tanggal 08 Agustus 2006